Jakarta, trendsberita.com – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada awal perdagangan hari ini. Mata uang Garuda itu dibuka melemah dan mendekati level Rp17.900 per dolar Amerika Serikat (AS).
Selain itu, pergerakan ini menunjukkan bahwa pasar valuta asing masih berada dalam kondisi tidak stabil sejak beberapa sesi sebelumnya.
Rupiah Bergerak di Sekitar Rp17.855
Pada pembukaan perdagangan, rupiah tercatat berada di kisaran Rp17.855 per dolar AS.
Dengan demikian, posisi ini menempatkan rupiah cukup dekat dengan level psikologis Rp17.900 yang sebelumnya jarang tersentuh.
Sementara itu, pelaku pasar mencermati bahwa tekanan terhadap rupiah tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan berlanjut dari sesi perdagangan sebelumnya.
Tekanan Masih Datang dari Sentimen Global
Di sisi lain, penguatan dolar AS ikut menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Investor global masih memilih dolar sebagai aset aman di tengah ketidakpastian ekonomi.
Selain itu, ekspektasi kebijakan suku bunga tinggi di Amerika Serikat membuat permintaan terhadap dolar tetap kuat.
Akibatnya, rupiah kehilangan momentum penguatan dalam beberapa hari terakhir.
Volatilitas Pasar Masih Tinggi
Pergerakan rupiah dalam beberapa sesi terakhir menunjukkan fluktuasi yang cukup lebar.
Dengan kata lain, pasar belum menemukan arah yang stabil karena sentimen global dan domestik terus berubah.
Selanjutnya, pelaku pasar juga terus memantau data ekonomi dan kebijakan bank sentral yang dapat memengaruhi arah nilai tukar.
Dampak ke Ekonomi Domestik
Kondisi rupiah yang melemah biasanya berdampak pada biaya impor yang lebih tinggi.
Selain itu, sektor yang bergantung pada bahan baku luar negeri berpotensi menghadapi tekanan biaya produksi.
Namun demikian, dampak tersebut tidak selalu langsung terasa karena setiap sektor memiliki tingkat sensitivitas yang berbeda.








