WHO Pastikan Hantavirus di MV Hondius Tak Sebahaya COVID-19, Risiko Pandemi Dinilai Rendah

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 9 Mei 2026 - 10:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: most1058fm.com

Foto: most1058fm.com

Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization memastikan wabah hantavirus yang muncul di kapal pesiar MV Hondius tidak memiliki tingkat ancaman seperti pandemi COVID-19. Meski sejumlah kasus terkonfirmasi dan beberapa penumpang meninggal dunia, WHO menilai risiko penyebaran luas kepada masyarakat global masih rendah.

Pernyataan tersebut muncul setelah muncul kekhawatiran internasional terkait wabah hantavirus yang menyerang penumpang kapal ekspedisi MV Hondius. Kapal tersebut sebelumnya berlayar dari Argentina menuju kawasan Atlantik dan sempat tertahan di sekitar Cape Verde akibat investigasi kesehatan.

WHO menegaskan bahwa virus Andes, jenis hantavirus yang diduga terlibat dalam kasus ini, memang dapat menular antarmanusia. Namun, pola penularannya jauh lebih terbatas dibanding virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19.

WHO Tegaskan Ini Bukan Awal Pandemi Baru

Dalam konferensi pers terbaru, pejabat WHO meminta masyarakat tidak membandingkan kasus hantavirus di MV Hondius dengan awal pandemi COVID-19 pada 2020.

WHO menjelaskan bahwa penularan virus Andes umumnya membutuhkan kontak sangat dekat dan berlangsung cukup lama. Kondisi tersebut berbeda dengan COVID-19 yang dapat menyebar cepat melalui droplet dan aerosol dalam berbagai situasi.

Pejabat WHO bahkan menegaskan bahwa wabah ini “bukan awal pandemi baru.” Pernyataan tersebut sekaligus meredam kekhawatiran publik yang mulai ramai membahas kemungkinan munculnya krisis kesehatan global baru.

Maria Van Kerkhove, pimpinan teknis WHO untuk kesiapsiagaan epidemi dan pandemi, mengatakan ancaman bagi masyarakat umum masih tergolong rendah meski investigasi tetap berjalan.

Tiga Orang Meninggal di Atas Kapal

Kasus hantavirus di MV Hondius mulai menarik perhatian dunia setelah beberapa penumpang mengalami gangguan pernapasan serius selama perjalanan laut.

Data WHO menunjukkan sedikitnya delapan kasus terkait wabah tersebut, dengan lima kasus telah terkonfirmasi positif hantavirus. Tiga penumpang dilaporkan meninggal dunia, sementara beberapa lainnya masih menjalani perawatan medis intensif.

Baca Juga :  Suspek Hantavirus di Kulon Progo Dipastikan Negatif, Dinkes Tetap Minta Warga Waspada

Laporan Reuters menyebut kapal itu membawa sekitar 147 penumpang dan kru ketika kasus mulai muncul. Tim medis internasional kemudian melakukan isolasi, pemeriksaan kesehatan, serta pelacakan kontak terhadap seluruh penumpang.

Pihak otoritas kesehatan dari sejumlah negara kini ikut memantau penumpang yang sempat turun dari kapal sebelum wabah teridentifikasi.

Virus Andes Memang Bisa Menular Antar Manusia

Hantavirus biasanya menyebar melalui paparan urine, air liur, atau kotoran hewan pengerat. Namun, jenis Andes virus memiliki karakteristik berbeda karena mampu menular antar manusia dalam kondisi tertentu.

Meski begitu, para ahli menilai tingkat penularannya tetap rendah. Penularan umumnya terjadi pada kontak dekat, termasuk interaksi intens dalam ruang tertutup atau hubungan keluarga.

Ahli virologi Gustavo Palacios menjelaskan bahwa virus Andes tidak memiliki kemampuan penularan secepat virus pernapasan lain seperti COVID-19. Ia menyebut sebagian besar kasus membutuhkan kontak erat dalam waktu cukup lama.

WHO juga menilai sebagian penumpang kemungkinan terpapar sebelum kapal berangkat atau saat melakukan perjalanan darat di Amerika Selatan. Investigasi mengenai sumber awal infeksi masih berlangsung hingga sekarang.

Penumpang Dipantau di Berbagai Negara

Setelah wabah terdeteksi, berbagai negara langsung melacak penumpang MV Hondius yang telah kembali ke negara asal masing-masing.

Amerika Serikat, Inggris, Belanda, Singapura, hingga Swiss mulai menjalankan pemantauan kesehatan terhadap individu yang sempat berada di kapal tersebut.

Pemerintah Singapura bahkan mengisolasi dua warganya yang baru kembali dari MV Hondius untuk menjalani pemeriksaan lanjutan. Otoritas kesehatan setempat menyebut risiko bagi masyarakat umum masih rendah.

Sementara itu, Belanda bekerja sama dengan berbagai pihak untuk mengevakuasi pasien yang membutuhkan penanganan medis lebih lanjut.

CDC Tetapkan Status Darurat Level 3

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat atau CDC ikut mengaktifkan respons darurat Level 3 terkait wabah ini.

Baca Juga :  Waspadai Serangan Jantung Usia Muda Akibat Begadang, Stres, dan Merokok

Status tersebut merupakan tingkat darurat paling rendah dalam klasifikasi CDC. Langkah itu bertujuan memperkuat koordinasi epidemiologis dan pemantauan kasus internasional.

Meski demikian, otoritas kesehatan Amerika tetap menilai ancaman bagi publik masih minimal.

Para pakar kesehatan menilai respons cepat tetap penting untuk mencegah kemungkinan penularan lanjutan, terutama karena virus Andes memiliki masa inkubasi cukup panjang.

WHO Minta Publik Tidak Panik

WHO meminta masyarakat tetap tenang dan tidak terpancing informasi menyesatkan terkait hantavirus.

Sejumlah informasi palsu mulai beredar di media sosial setelah kasus MV Hondius viral secara global. WHO menegaskan belum ada bukti bahwa obat tertentu dapat menyembuhkan hantavirus secara instan.

Pakar kesehatan juga mengingatkan bahwa kasus hantavirus berbeda jauh dengan situasi awal pandemi COVID-19. Para ilmuwan menilai kemungkinan wabah berkembang menjadi pandemi global sangat kecil.

Michael Osterholm, Direktur Center for Infectious Disease Research and Policy Universitas Minnesota, menyebut wabah ini bukan ancaman pandemi baru meski tetap membutuhkan pengawasan serius.

Gejala Hantavirus Perlu Diwaspadai

WHO mengingatkan masyarakat untuk mengenali gejala awal hantavirus, terutama bagi individu yang memiliki riwayat kontak dengan hewan pengerat atau wilayah berisiko.

Gejala awal biasanya meliputi demam ringan, nyeri otot, kelelahan, sakit kepala, dan mual. Pada kasus berat, infeksi dapat berkembang menjadi gangguan paru-paru serius atau Hantavirus Pulmonary Syndrome.

Dokter paru dari Amrita Hospital India, Pradeep Bajad, menjelaskan bahwa kondisi pasien dapat memburuk dalam waktu singkat jika tidak segera mendapatkan penanganan medis.

Hingga kini, WHO masih terus memantau perkembangan wabah di MV Hondius sambil melakukan koordinasi dengan berbagai negara untuk mencegah penyebaran lebih luas.

Follow WhatsApp Channel trendsberita.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Campak Jadi Ancaman yang Terlupakan di Tengah Sorotan Ebola dan Hantavirus
Viral Rontgen Usus Wanita Susah BAB 23 Tahun, Kondisinya Bikin Dokter Terkejut
Bayam Punya 5 Manfaat Besar untuk Kesehatan, Tapi Kelompok Ini Sebaiknya Membatasi Konsumsi
Fakta Nanas untuk Paru-Paru, Benarkah Bisa Membersihkan Racun dan Nikotin?
10 Komplikasi Asam Urat yang Perlu Diwaspadai, Nomor 10 Bisa Mengancam Jiwa
Fakta Terbaru Kanker Payudara 2026, Pentingnya Skrining dan Harapan Baru Pengobatan
Waspadai Serangan Jantung Usia Muda Akibat Begadang, Stres, dan Merokok
Banyak yang Masih Bingung, Dokter Jelaskan Perbedaan PCOS dan PMOS
Berita ini 26 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 4 Juni 2026 - 11:00 WIB

Campak Jadi Ancaman yang Terlupakan di Tengah Sorotan Ebola dan Hantavirus

Selasa, 2 Juni 2026 - 22:00 WIB

Viral Rontgen Usus Wanita Susah BAB 23 Tahun, Kondisinya Bikin Dokter Terkejut

Selasa, 2 Juni 2026 - 09:00 WIB

Bayam Punya 5 Manfaat Besar untuk Kesehatan, Tapi Kelompok Ini Sebaiknya Membatasi Konsumsi

Minggu, 31 Mei 2026 - 12:00 WIB

Fakta Nanas untuk Paru-Paru, Benarkah Bisa Membersihkan Racun dan Nikotin?

Minggu, 31 Mei 2026 - 10:00 WIB

10 Komplikasi Asam Urat yang Perlu Diwaspadai, Nomor 10 Bisa Mengancam Jiwa

Berita Terbaru

Oplus_131072

Daerah

Misteri Batu Gong Purba yang Bisa Berdenting Seperti Logam

Selasa, 28 Jul 2026 - 20:33 WIB