Rupiah Anjlok ke Rp17.926 per Dollar AS, Jadi Mata Uang Terlemah di Asia

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 3 Juni 2026 - 20:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: (KOMPAS.com/MAULANA MAHARDHIKA)

Foto: (KOMPAS.com/MAULANA MAHARDHIKA)

Jakarta, trendsberita.com– Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan berat pada perdagangan Rabu (3/6/2026). Mata uang Garuda melemah hingga menyentuh level Rp17.926 per dollar Amerika Serikat (AS), sekaligus menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di kawasan Asia pada hari tersebut.

Data pasar menunjukkan rupiah terdepresiasi sekitar 0,49 persen terhadap dollar AS. Pelemahan tersebut memperpanjang tren negatif yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir ketika tekanan eksternal dan sentimen global terus membebani pergerakan mata uang negara berkembang.

Selain itu, penguatan dollar AS di pasar global membuat investor cenderung mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman. Akibatnya, mata uang Asia, termasuk rupiah, menghadapi tekanan yang cukup besar. Namun, rupiah mencatat pelemahan yang lebih dalam dibanding mayoritas mata uang regional lainnya.

Rupiah Jadi Mata Uang Asia dengan Pelemahan Terdalam

Pada perdagangan pagi, rupiah sempat bergerak di kisaran Rp17.926 per dollar AS. Posisi tersebut menempatkan rupiah sebagai mata uang dengan kinerja terburuk di Asia pada hari itu.

Sementara itu, beberapa mata uang Asia lainnya juga mengalami tekanan akibat penguatan dollar AS. Meski demikian, pelemahan yang dialami rupiah tercatat lebih besar dibanding mata uang regional lainnya.

Kondisi tersebut membuat pelaku pasar semakin mencermati langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar di tengah meningkatnya volatilitas pasar keuangan global.

Penguatan Dollar AS Jadi Faktor Utama

Analis menilai penguatan dollar AS menjadi salah satu faktor terbesar yang menekan rupiah. Investor global saat ini masih menempatkan dana pada aset berbasis dollar karena mempertimbangkan kondisi ekonomi Amerika Serikat yang relatif kuat.

Baca Juga :  Purbaya Yudhi Sadewa Dikabarkan Dirawat di RS, Ini Fakta dan Jejak Karier Menkeu

Selain itu, tingginya suku bunga AS membuat banyak investor memilih instrumen keuangan berdenominasi dollar. Akibatnya, permintaan terhadap dollar meningkat dan memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang.

Di sisi lain, ketidakpastian global juga mendorong investor mengurangi eksposur pada aset berisiko sehingga arus modal keluar dari pasar berkembang semakin meningkat.

Geopolitik Timur Tengah Ikut Menekan Pasar

Selain faktor moneter global, ketegangan geopolitik di Timur Tengah juga ikut memengaruhi pergerakan rupiah.

Konflik yang melibatkan Iran dan sejumlah negara di kawasan memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi dunia. Kondisi tersebut mendorong kenaikan harga minyak dan meningkatkan tekanan terhadap negara-negara pengimpor energi seperti Indonesia.

Karena itu, investor semakin berhati-hati dalam menempatkan dana di pasar negara berkembang. Dampaknya, tekanan terhadap rupiah dan sejumlah mata uang Asia lainnya terus berlanjut.

Bank Indonesia Terus Jaga Stabilitas Rupiah

Bank Indonesia sebelumnya telah mengambil sejumlah langkah untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menegaskan bahwa bank sentral terus melakukan intervensi di pasar valuta asing domestik maupun offshore guna meredam volatilitas yang berlebihan. Selain itu, BI juga menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin untuk memperkuat daya tarik aset keuangan domestik.

Bank Indonesia menilai langkah tersebut penting untuk menjaga kepercayaan investor sekaligus mengendalikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Dengan demikian, stabilitas sistem keuangan nasional tetap terjaga di tengah ketidakpastian global.

Tekanan Rupiah Sudah Terjadi Sejak Awal Tahun

Pelemahan rupiah bukan hanya terjadi dalam beberapa hari terakhir. Sejak awal 2026, mata uang Indonesia terus menghadapi tekanan akibat berbagai faktor eksternal dan domestik.

Baca Juga :  Harga Bensin Melonjak, Restoran Cepat Saji Mulai Keluhkan Penurunan Penjualan

Bahkan, sejumlah laporan menunjukkan posisi rupiah sempat mencetak rekor terendah baru dalam sejarah pada Mei 2026. Selain itu, sentimen terkait transparansi pasar modal, kondisi fiskal, dan arus modal asing turut memengaruhi pergerakan rupiah.

Karena itu, pelaku pasar masih memantau berbagai kebijakan yang dapat membantu memperkuat kepercayaan investor terhadap pasar keuangan Indonesia.

Dampak Pelemahan Rupiah terhadap Ekonomi

Pelemahan rupiah dapat memberikan dampak yang cukup luas terhadap perekonomian nasional.

Pertama, biaya impor berpotensi meningkat karena pelaku usaha harus mengeluarkan lebih banyak rupiah untuk membeli barang dari luar negeri. Kedua, kenaikan harga impor dapat memicu tekanan inflasi apabila berlangsung dalam jangka panjang.

Namun demikian, pelemahan rupiah juga dapat memberikan keuntungan bagi sektor yang berorientasi ekspor karena pendapatan dalam dollar akan bernilai lebih tinggi ketika dikonversi ke rupiah. Karena itu, dampak pelemahan kurs tidak selalu sama bagi setiap sektor ekonomi.

Investor Menunggu Arah Kebijakan Selanjutnya

Saat ini pelaku pasar menunggu langkah lanjutan dari Bank Indonesia dan pemerintah dalam menjaga stabilitas pasar keuangan.

Selain mencermati perkembangan geopolitik global, investor juga memantau arah kebijakan moneter Amerika Serikat yang masih menjadi faktor utama penggerak pasar mata uang dunia.

Karena itu, pergerakan rupiah dalam beberapa pekan mendatang masih berpotensi mengalami volatilitas tinggi seiring perubahan sentimen global yang berlangsung sangat cepat.

Follow WhatsApp Channel trendsberita.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Defisit APBN Mei 2026 Capai Rp180,4 Triliun, Naik 76,32 Persen Secara Tahunan
Rupiah Melemah ke Rekor Terendah, Ini Dampaknya terhadap Dompet Masyarakat
Prabowo Akan Lantik Nanik S Deyang sebagai Kepala BGN pada 8 Juni 2026
Perlu Sinergi Fiskal dan Moneter untuk Mengerek Nilai Tukar Rupiah
Kepala BGN Akan Review 27 Ribu SPPG, Kaji Enam Dapur MBG per Kecamatan
Aturan Baru Toko Online Segera Terbit, Marketplace Dilarang Naikkan Biaya Sepihak
7 Fakta Menarik tentang Sifat Generasi Z yang Kerap Jadi Sorotan di Era Digital
Besok Ada Pengumuman Penting, Pasar Waspadai Data Inflasi Indonesia Juni 2026
Berita ini 1 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 5 Juni 2026 - 22:00 WIB

Defisit APBN Mei 2026 Capai Rp180,4 Triliun, Naik 76,32 Persen Secara Tahunan

Jumat, 5 Juni 2026 - 21:00 WIB

Rupiah Melemah ke Rekor Terendah, Ini Dampaknya terhadap Dompet Masyarakat

Jumat, 5 Juni 2026 - 12:00 WIB

Perlu Sinergi Fiskal dan Moneter untuk Mengerek Nilai Tukar Rupiah

Jumat, 5 Juni 2026 - 10:00 WIB

Kepala BGN Akan Review 27 Ribu SPPG, Kaji Enam Dapur MBG per Kecamatan

Kamis, 4 Juni 2026 - 12:00 WIB

Aturan Baru Toko Online Segera Terbit, Marketplace Dilarang Naikkan Biaya Sepihak

Berita Terbaru