Perlu Sinergi Fiskal dan Moneter untuk Mengerek Nilai Tukar Rupiah

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 5 Juni 2026 - 12:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: ANTARA/Hasrul Said

Foto: ANTARA/Hasrul Said

JAKARTA, trendsberita.com  – Tekanan terhadap nilai tukar rupiah dalam beberapa bulan terakhir memunculkan kebutuhan akan koordinasi yang lebih kuat antara pemerintah dan Bank Indonesia. Sejumlah ekonom menilai sinergi kebijakan fiskal dan moneter menjadi kunci untuk menjaga stabilitas pasar keuangan sekaligus memperkuat kepercayaan investor terhadap perekonomian nasional. Rupiah bahkan sempat menyentuh level terendah terhadap dolar AS di tengah meningkatnya ketidakpastian global dan arus keluar modal asing.

Pemerintah dan Bank Indonesia sebenarnya telah memperkuat koordinasi kebijakan sepanjang 2026. Kedua lembaga berupaya menjaga stabilitas inflasi, mendukung pertumbuhan ekonomi, serta mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah melalui berbagai instrumen kebijakan.

Karena itu, banyak pihak menilai kolaborasi yang lebih erat dapat membantu mempercepat pemulihan sentimen pasar dan memperkuat posisi rupiah.

Rupiah Menghadapi Tekanan Global

Penguatan dolar AS dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik global menjadi faktor utama yang menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Selain itu, investor global cenderung memindahkan dana ke aset yang dianggap lebih aman ketika risiko pasar meningkat. Kondisi tersebut menyebabkan tekanan terhadap pasar keuangan domestik dan memperlemah nilai tukar rupiah.

Karena itu, Indonesia membutuhkan respons kebijakan yang terkoordinasi agar mampu meredam dampak gejolak eksternal.

Baca Juga :  Ramalan Shio Rabu 26 Agustus 2026

Bank Indonesia Fokus Jaga Stabilitas

Bank Indonesia terus mengarahkan kebijakan moneternya untuk menjaga inflasi dan stabilitas rupiah.

Otoritas moneter menggunakan berbagai instrumen seperti intervensi pasar valuta asing, operasi moneter, serta pengelolaan likuiditas guna menjaga keseimbangan pasar keuangan. Selain itu, BI juga memperkuat strategi stabilisasi nilai tukar melalui transaksi pasar spot dan instrumen derivatif domestik.

Langkah tersebut membantu mengurangi volatilitas rupiah di tengah tekanan global yang masih berlangsung.

APBN Berperan Sebagai Penyangga

Di sisi lain, pemerintah memanfaatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk menjaga daya tahan ekonomi nasional.

Kementerian Keuangan terus menjalankan berbagai program yang mendukung pertumbuhan ekonomi dan menjaga daya beli masyarakat. Selain itu, pemerintah juga berupaya memastikan likuiditas perbankan tetap memadai agar sektor usaha memperoleh akses pembiayaan yang cukup.

Karena itu, kebijakan fiskal memiliki peran penting dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.

Sinergi Jadi Kunci Penguatan Rupiah

Sejumlah ekonom menilai penguatan rupiah tidak cukup hanya mengandalkan kebijakan moneter.

Pemerintah dan Bank Indonesia perlu menyelaraskan langkah agar kebijakan yang diambil dapat saling mendukung. Koordinasi tersebut mencakup pengelolaan likuiditas, pengendalian inflasi, dukungan terhadap investasi, serta penguatan sektor riil.

Baca Juga :  SBY Minta Misi UNIFIL di Lebanon Dihentikan, PKB: Keamanan Pasukan Utama

Selain itu, sinergi yang kuat dapat meningkatkan kepercayaan investor terhadap arah kebijakan ekonomi nasional.

Karena itu, stabilitas rupiah akan lebih mudah tercapai apabila kedua kebijakan berjalan secara seimbang.

Investor Membutuhkan Kepastian

Pasar keuangan sangat memperhatikan konsistensi kebijakan pemerintah dan otoritas moneter.

Investor cenderung memberikan respons positif ketika pemerintah dan Bank Indonesia menunjukkan koordinasi yang kuat dalam menghadapi tantangan ekonomi. Sebaliknya, ketidakpastian kebijakan dapat meningkatkan tekanan terhadap pasar keuangan dan nilai tukar rupiah.

Karena itu, komunikasi yang jelas dan langkah kebijakan yang terukur menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan pasar.

Pertumbuhan dan Stabilitas Harus Berjalan Bersama

Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dalam beberapa tahun ke depan. Namun, upaya tersebut tetap membutuhkan stabilitas ekonomi makro sebagai fondasi utama.

Bank Indonesia juga terus berupaya menjaga keseimbangan antara stabilitas harga dan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi melalui bauran kebijakan yang tepat.

Selain menjaga rupiah, kebijakan yang terkoordinasi dapat mendorong investasi, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan aktivitas ekonomi nasional.

Follow WhatsApp Channel trendsberita.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

LSM Brajo Sakti Soroti Penggunaan Anggaran Operasional RS Pratama Bukit Kerman
Hubungan Takdir, Ikhtiar, Doa, dan Tawakal
Pemkot Sungai Penuh Raih Apresiasi Pemimpin Daerah Award 2026 Berkat Inovasi Program 3S
Gunung Lewotobi Laki-laki Erupsi, Kolom Abu Mencapai 2.500 Meter
Energi Monyet Air Bawa Keberanian Menghadapi Perubahan
Banjir Bandang Mematikan Terjang Nepal-Tibet
Ramalan Shio Rabu 26 Agustus 2026
Komisi II DPRD Kota Sungai Penuh Bahas Pengawasan Distribusi LPG 3 Kg
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 8 September 2026 - 08:47 WIB

LSM Brajo Sakti Soroti Penggunaan Anggaran Operasional RS Pratama Bukit Kerman

Jumat, 28 Agustus 2026 - 08:26 WIB

Hubungan Takdir, Ikhtiar, Doa, dan Tawakal

Jumat, 28 Agustus 2026 - 08:21 WIB

Pemkot Sungai Penuh Raih Apresiasi Pemimpin Daerah Award 2026 Berkat Inovasi Program 3S

Kamis, 27 Agustus 2026 - 11:59 WIB

Gunung Lewotobi Laki-laki Erupsi, Kolom Abu Mencapai 2.500 Meter

Kamis, 27 Agustus 2026 - 11:25 WIB

Energi Monyet Air Bawa Keberanian Menghadapi Perubahan

Berita Terbaru

Oplus_131072

Daerah

Hubungan Takdir, Ikhtiar, Doa, dan Tawakal

Jumat, 28 Agu 2026 - 08:26 WIB

Oplus_131072

Internasional

Energi Monyet Air Bawa Keberanian Menghadapi Perubahan

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:25 WIB