JAKARTA, trendsberita.com – Sejumlah perusahaan nikel raksasa asal China mulai mencari alternatif investasi di luar Indonesia. Mereka menjajaki peluang di Afrika dan kawasan Pasifik setelah berbagai perubahan kebijakan dalam negeri memunculkan kekhawatiran mengenai stabilitas investasi jangka panjang.
Dua nama besar yang menjadi sorotan adalah Tsingshan Group dan Lygend Resources. Kedua perusahaan tersebut berperan penting dalam mendorong pertumbuhan industri nikel Indonesia hingga menjadi produsen terbesar dunia dalam beberapa tahun terakhir.
Karena itu, langkah mereka mencari proyek di luar Indonesia menarik perhatian pelaku industri dan investor global.
Tsingshan Bidik Madagascar
Tsingshan Group tengah mempertimbangkan pembangunan kawasan industri berbasis mineral di Madagascar dengan nilai investasi mencapai miliaran dolar AS. Pemerintah Madagascar menyebut proposal tersebut terinspirasi oleh keberhasilan kawasan industri nikel Morowali dan Weda Bay di Indonesia.
Meski demikian, pemerintah Madagascar masih meninjau proposal tersebut dan belum mengeluarkan izin pertambangan apa pun. Jika proyek itu berjalan, Tsingshan akan menjalankan investasi nikel besar pertamanya di luar Indonesia.
Lygend Lirik Tanzania dan Kaledonia Baru
Selain Tsingshan, Lygend Resources juga mulai memperluas pencarian proyek baru.
Perusahaan tersebut dikabarkan menjajaki peluang investasi pada proyek nikel Kabanga di Tanzania yang dikenal sebagai salah satu cadangan nikel sulfida terbesar yang belum dikembangkan di dunia. Lygend juga mempertimbangkan untuk menghidupkan kembali proyek nikel Koniambo di Kaledonia Baru yang saat ini tidak beroperasi.
Jika rencana tersebut terealisasi, Lygend akan memperluas operasinya ke luar Indonesia untuk pertama kalinya.
Indonesia Tetap Jadi Pemain Dominan
Meski investor mulai melirik negara lain, Indonesia masih memegang posisi dominan dalam industri nikel global.
Data menunjukkan Indonesia menyumbang lebih dari 60 persen produksi nikel tambang dunia pada 2025. Angka tersebut meningkat tajam dibandingkan sekitar 30 persen pada 2020 setelah pemerintah menjalankan kebijakan hilirisasi dan melarang ekspor bijih nikel mentah.
Kebijakan tersebut berhasil menarik investasi besar dari perusahaan China untuk membangun smelter dan kawasan industri pengolahan nikel di berbagai daerah.
Perubahan Kebijakan Picu Kekhawatiran
Sejumlah investor mulai mengkhawatirkan arah kebijakan pemerintah yang dinilai semakin ketat terhadap sektor pertambangan.
Investor menyoroti pengetatan kuota penambangan bijih nikel, rencana kenaikan pajak, revisi harga patokan mineral, hingga wacana penguatan kontrol negara terhadap ekspor komoditas strategis. Faktor-faktor tersebut mendorong pelaku usaha untuk mempertimbangkan diversifikasi investasi ke negara lain.
Kamar Dagang China di Indonesia bahkan telah menyampaikan kekhawatiran bahwa kebijakan tersebut dapat memengaruhi minat investasi di masa depan.
Investasi Asing Mulai Melambat
Data investasi menunjukkan pertumbuhan investasi asing langsung ke Indonesia mengalami perlambatan.
Investasi asing langsung tercatat turun sekitar 6 persen pada 2025 setelah sebelumnya tumbuh 19 persen pada tahun sebelumnya. Sementara itu, investasi baru di sektor pemurnian logam dasar juga mulai menunjukkan tren stagnan sejak 2024.
Kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa investor mulai mempertimbangkan berbagai alternatif untuk menjaga keberlanjutan bisnis mereka.
Afrika Hadapi Tantangan Besar
Meski menawarkan peluang baru, Afrika belum tentu mampu menggantikan posisi Indonesia dalam waktu dekat.
Madagascar dan Tanzania masih menghadapi tantangan berupa infrastruktur yang lebih terbatas, risiko politik yang lebih tinggi, serta kebutuhan investasi yang sangat besar untuk membangun fasilitas pengolahan nikel.
Selain itu, Indonesia masih memiliki keunggulan dari sisi ketersediaan bijih, ekosistem industri yang telah terbentuk, serta jaringan smelter yang jauh lebih matang dibandingkan negara pesaing.









