Raksasa Nikel China Mulai Lirik Afrika, Investasi di Indonesia Terancam Melambat

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 5 Juni 2026 - 23:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: IDNFinancials

Foto: IDNFinancials

JAKARTA, trendsberita.com – Sejumlah perusahaan nikel raksasa asal China mulai mencari alternatif investasi di luar Indonesia. Mereka menjajaki peluang di Afrika dan kawasan Pasifik setelah berbagai perubahan kebijakan dalam negeri memunculkan kekhawatiran mengenai stabilitas investasi jangka panjang.

Dua nama besar yang menjadi sorotan adalah Tsingshan Group dan Lygend Resources. Kedua perusahaan tersebut berperan penting dalam mendorong pertumbuhan industri nikel Indonesia hingga menjadi produsen terbesar dunia dalam beberapa tahun terakhir.

Karena itu, langkah mereka mencari proyek di luar Indonesia menarik perhatian pelaku industri dan investor global.

Tsingshan Bidik Madagascar

Tsingshan Group tengah mempertimbangkan pembangunan kawasan industri berbasis mineral di Madagascar dengan nilai investasi mencapai miliaran dolar AS. Pemerintah Madagascar menyebut proposal tersebut terinspirasi oleh keberhasilan kawasan industri nikel Morowali dan Weda Bay di Indonesia.

Meski demikian, pemerintah Madagascar masih meninjau proposal tersebut dan belum mengeluarkan izin pertambangan apa pun. Jika proyek itu berjalan, Tsingshan akan menjalankan investasi nikel besar pertamanya di luar Indonesia.

Lygend Lirik Tanzania dan Kaledonia Baru

Selain Tsingshan, Lygend Resources juga mulai memperluas pencarian proyek baru.

Baca Juga :  Ancaman “Zaman Batu” Trump Dibalas Iran, Ketegangan Makin Memanas

Perusahaan tersebut dikabarkan menjajaki peluang investasi pada proyek nikel Kabanga di Tanzania yang dikenal sebagai salah satu cadangan nikel sulfida terbesar yang belum dikembangkan di dunia. Lygend juga mempertimbangkan untuk menghidupkan kembali proyek nikel Koniambo di Kaledonia Baru yang saat ini tidak beroperasi.

Jika rencana tersebut terealisasi, Lygend akan memperluas operasinya ke luar Indonesia untuk pertama kalinya.

Indonesia Tetap Jadi Pemain Dominan

Meski investor mulai melirik negara lain, Indonesia masih memegang posisi dominan dalam industri nikel global.

Data menunjukkan Indonesia menyumbang lebih dari 60 persen produksi nikel tambang dunia pada 2025. Angka tersebut meningkat tajam dibandingkan sekitar 30 persen pada 2020 setelah pemerintah menjalankan kebijakan hilirisasi dan melarang ekspor bijih nikel mentah.

Kebijakan tersebut berhasil menarik investasi besar dari perusahaan China untuk membangun smelter dan kawasan industri pengolahan nikel di berbagai daerah.

Perubahan Kebijakan Picu Kekhawatiran

Sejumlah investor mulai mengkhawatirkan arah kebijakan pemerintah yang dinilai semakin ketat terhadap sektor pertambangan.

Investor menyoroti pengetatan kuota penambangan bijih nikel, rencana kenaikan pajak, revisi harga patokan mineral, hingga wacana penguatan kontrol negara terhadap ekspor komoditas strategis. Faktor-faktor tersebut mendorong pelaku usaha untuk mempertimbangkan diversifikasi investasi ke negara lain.

Baca Juga :  Warga AS Ngamuk Harga BBM Meroket, Biaya Hidup Makin Berat

Kamar Dagang China di Indonesia bahkan telah menyampaikan kekhawatiran bahwa kebijakan tersebut dapat memengaruhi minat investasi di masa depan.

Investasi Asing Mulai Melambat

Data investasi menunjukkan pertumbuhan investasi asing langsung ke Indonesia mengalami perlambatan.

Investasi asing langsung tercatat turun sekitar 6 persen pada 2025 setelah sebelumnya tumbuh 19 persen pada tahun sebelumnya. Sementara itu, investasi baru di sektor pemurnian logam dasar juga mulai menunjukkan tren stagnan sejak 2024.

Kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa investor mulai mempertimbangkan berbagai alternatif untuk menjaga keberlanjutan bisnis mereka.

Afrika Hadapi Tantangan Besar

Meski menawarkan peluang baru, Afrika belum tentu mampu menggantikan posisi Indonesia dalam waktu dekat.

Madagascar dan Tanzania masih menghadapi tantangan berupa infrastruktur yang lebih terbatas, risiko politik yang lebih tinggi, serta kebutuhan investasi yang sangat besar untuk membangun fasilitas pengolahan nikel.

Selain itu, Indonesia masih memiliki keunggulan dari sisi ketersediaan bijih, ekosistem industri yang telah terbentuk, serta jaringan smelter yang jauh lebih matang dibandingkan negara pesaing.

Follow WhatsApp Channel trendsberita.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

September 2026 diprediksi menjadi bulan peluncuran smartphone flagship terbesar
Misteri Batu Gong Purba yang Bisa Berdenting Seperti Logam
Garuda Mengamuk! Indonesia Libas Kamboja 5-1, Raih Tiga Poin Perdana di Kejuaraan ASEAN
Kode Redeem Mobile Legends Terbaru Hari Ini, 28 Juli 2026, Klaim Hadiah Menarik
Kode Redeem Free Fire Hari Ini, Klaim Bundle BR Elite, Skin, Voucher, dan Hadiah Gratis
HP iQOO Terbaru 2026, Performa Gaming Kencang
Harga Emas Hari Ini 27 Juli 2026 Melonjak, Naik Rp14.772 per Gram
Kapan Waktu Terbaik Upload Berita Online? Ini Pola Publikasi yang Efektif untuk Meningkatkan Traffic
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 28 Juli 2026 - 20:42 WIB

September 2026 diprediksi menjadi bulan peluncuran smartphone flagship terbesar

Selasa, 28 Juli 2026 - 20:33 WIB

Misteri Batu Gong Purba yang Bisa Berdenting Seperti Logam

Selasa, 28 Juli 2026 - 08:33 WIB

Garuda Mengamuk! Indonesia Libas Kamboja 5-1, Raih Tiga Poin Perdana di Kejuaraan ASEAN

Selasa, 28 Juli 2026 - 08:01 WIB

Kode Redeem Mobile Legends Terbaru Hari Ini, 28 Juli 2026, Klaim Hadiah Menarik

Selasa, 28 Juli 2026 - 07:34 WIB

Kode Redeem Free Fire Hari Ini, Klaim Bundle BR Elite, Skin, Voucher, dan Hadiah Gratis

Berita Terbaru

Oplus_131072

Daerah

Misteri Batu Gong Purba yang Bisa Berdenting Seperti Logam

Selasa, 28 Jul 2026 - 20:33 WIB