PT INTI Terancam Ditutup, Ini Fakta dan Arah Restrukturisasi BUMN Telekomunikasi

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 24 Mei 2026 - 09:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Chief Operating Officer (COO) Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) Dony Oskaria.Foto: Dok. Tangkapan Layar YouTube CNBC Indonesia

Chief Operating Officer (COO) Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) Dony Oskaria.Foto: Dok. Tangkapan Layar YouTube CNBC Indonesia

trendsberita.com – Pemerintah melalui Danantara kini mempercepat agenda besar restrukturisasi BUMN. Dalam proses tersebut, PT Industri Telekomunikasi Indonesia (Persero) atau PT INTI ikut masuk dalam daftar evaluasi strategis.

Sementara itu, pemerintah tidak hanya melihat aspek operasional semata, tetapi juga mempertimbangkan kontribusi jangka panjang setiap perusahaan terhadap ekonomi nasional.

Selain itu, COO Danantara, Dony Oskaria, menegaskan bahwa seluruh opsi tetap terbuka, termasuk langkah ekstrem jika perusahaan tidak lagi relevan dengan kebutuhan industri.

Lebih jauh lagi, pemerintah ingin memastikan setiap BUMN bergerak efisien, adaptif, dan mampu bersaing di era digital.

Danantara Tegaskan Tidak Semua BUMN Akan Dipertahankan

Dalam sebuah forum ekonomi, Dony Oskaria menjelaskan bahwa pemerintah tidak akan mempertahankan seluruh BUMN secara otomatis.

Menurutnya, sebagian perusahaan pelat merah memang masih memiliki peran penting, namun sebagian lain justru perlu penyesuaian besar.

“Kalau sebuah perusahaan tidak lagi sehat dan tidak punya prospek jangka panjang, maka kita harus berani mengambil keputusan, termasuk penutupan atau penggabungan,” ujarnya.

Dengan demikian, pemerintah mulai mengubah pendekatan lama yang cenderung mempertahankan semua BUMN tanpa evaluasi ketat.

Di sisi lain, kebijakan baru ini menekankan efisiensi dan hasil nyata bagi negara.

PT INTI Pernah Jadi Pilar Telekomunikasi Nasional

Jika menengok ke belakang, PT INTI pernah memainkan peran penting dalam perkembangan industri telekomunikasi Indonesia.

Pada masa awal digitalisasi, perusahaan ini memproduksi perangkat jaringan, kartu pintar, serta berbagai solusi teknologi informasi untuk kebutuhan nasional.

Selain itu, PT INTI juga menjadi salah satu simbol kemandirian teknologi Indonesia di sektor telekomunikasi.

Baca Juga :  IHSG MEROSOT LEBIH DARI 3% USAI PENGUMUMAN MSCI, TEKANAN ASING DAN REBALANCING JADI PEMICU

Namun demikian, perubahan teknologi global bergerak jauh lebih cepat dibandingkan adaptasi perusahaan tradisional.

Akibatnya, banyak BUMN teknologi harus menghadapi tekanan besar dari pasar yang semakin kompetitif.

Transformasi Industri Ubah Peta Persaingan BUMN Teknologi

Seiring berkembangnya teknologi digital, struktur industri telekomunikasi ikut berubah secara drastis.

Misalnya, model bisnis yang sebelumnya berbasis perangkat keras kini bergeser ke layanan berbasis software dan solusi digital.

Selain itu, perusahaan global masuk dengan inovasi yang lebih cepat dan efisiensi biaya yang lebih tinggi.

Oleh karena itu, BUMN seperti PT INTI menghadapi tantangan besar untuk tetap relevan.

Sementara itu, pemerintah juga mendorong seluruh BUMN agar segera melakukan adaptasi terhadap perubahan ini.

Danantara Dorong Konsolidasi Agar BUMN Lebih Efisien

Untuk menjawab tantangan tersebut, Danantara mengusung strategi konsolidasi besar-besaran.

Pertama, pemerintah ingin mengurangi tumpang tindih bisnis antar BUMN.
Kedua, pemerintah menargetkan efisiensi struktur organisasi.
Ketiga, pemerintah ingin memperkuat ekosistem BUMN agar lebih kompetitif.

Dengan demikian, setiap perusahaan pelat merah harus memiliki peran yang jelas dan tidak berjalan sendiri-sendiri.

Selain itu, konsolidasi ini juga bertujuan meningkatkan daya saing Indonesia di tingkat global.

Evaluasi PT INTI Mengacu pada Beberapa Indikator Kunci

Dalam proses penilaian, Danantara menggunakan sejumlah indikator untuk menentukan masa depan PT INTI.

Pertama, pemerintah menilai kinerja keuangan perusahaan dalam beberapa tahun terakhir.
Kedua, pemerintah mengevaluasi efisiensi operasional.
Ketiga, pemerintah melihat relevansi bisnis terhadap kebutuhan industri saat ini.

Selain itu, pemerintah juga mempertimbangkan potensi transformasi digital jangka panjang.

Baca Juga :  Aksi Jual Emas Bank Sentral Kian Deras, Pasar Waspadai Tekanan Harga

Dengan pendekatan ini, keputusan tidak hanya berbasis kondisi saat ini, tetapi juga proyeksi masa depan.

Tiga Opsi Strategis Mulai Dibahas Pemerintah

Seiring berjalannya evaluasi, pemerintah membuka tiga opsi utama untuk PT INTI.

Di satu sisi, perusahaan bisa digabung dengan BUMN lain yang memiliki lini bisnis serupa.
Di sisi lain, PT INTI bisa bertahan jika berhasil melakukan transformasi menyeluruh.
Namun demikian, opsi penutupan tetap muncul jika perusahaan tidak lagi layak secara ekonomi.

Ketiga opsi tersebut masih berada dalam tahap kajian mendalam dan belum menghasilkan keputusan final.

Potensi Dampak Jika Restrukturisasi Terjadi

Apabila pemerintah melanjutkan restrukturisasi besar, dampaknya akan terasa di berbagai sektor.

Dari sisi industri, konsolidasi dapat mengubah struktur manufaktur telekomunikasi nasional.

Sementara itu, dari sisi tenaga kerja, perusahaan mungkin perlu melakukan penataan ulang SDM agar lebih sesuai dengan kebutuhan baru.

Selain itu, pemerintah juga dapat mengalihkan sebagian aset ke BUMN lain yang lebih produktif.

Namun demikian, pemerintah tetap menegaskan bahwa setiap langkah akan mempertimbangkan aspek sosial dan ekonomi.

PT INTI Tetap Jalankan Program Transformasi Bisnis

Meskipun berada dalam sorotan evaluasi, PT INTI tetap menjalankan agenda transformasi internal.

Perusahaan mulai memperkuat fokus pada solusi digital, Internet of Things (IoT), dan sistem integrasi teknologi.

Selain itu, PT INTI juga memperluas kerja sama dengan berbagai mitra industri untuk memperkuat posisi bisnisnya.

Dengan langkah tersebut, perusahaan berusaha menyesuaikan diri dengan perubahan pasar yang semakin cepat.

Follow WhatsApp Channel trendsberita.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

IHSG Turun 4,52 Persen ke Level 5.342, Mayoritas Saham Merah
Rekomendasi Kripto Hari Ini: Render, Dogecoin, dan Chiliz Jadi Sorotan di Tengah Gejolak Pasar
BEI Kembali Dibuka, Ini Daftar Saham Cum Dividen Hari Ini dengan Potensi Dividen hingga Rp18.000 per Lot
Daftar Lengkap Saham yang Bakal Didepak dari Indeks FTSE, GOTO hingga NCKL Masuk Daftar
Ahli Buka-bukaan Soal Harga Emas Sepekan ke Depan, Ini Prediksinya
Bitcoin Jatuh Lagi, Dua Sentimen Ini Bikin Pasar Kripto Tertekan
Harga Emas Hari Ini Turun Rp13.000, Saat Beli atau Tunggu?
UNIC Tebar Dividen Rp1.447 per Saham, Ini Jadwalnya
Berita ini 1 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 9 Juni 2026 - 12:00 WIB

IHSG Turun 4,52 Persen ke Level 5.342, Mayoritas Saham Merah

Rabu, 3 Juni 2026 - 21:00 WIB

Rekomendasi Kripto Hari Ini: Render, Dogecoin, dan Chiliz Jadi Sorotan di Tengah Gejolak Pasar

Rabu, 3 Juni 2026 - 12:00 WIB

BEI Kembali Dibuka, Ini Daftar Saham Cum Dividen Hari Ini dengan Potensi Dividen hingga Rp18.000 per Lot

Rabu, 3 Juni 2026 - 11:00 WIB

Daftar Lengkap Saham yang Bakal Didepak dari Indeks FTSE, GOTO hingga NCKL Masuk Daftar

Senin, 1 Juni 2026 - 13:00 WIB

Ahli Buka-bukaan Soal Harga Emas Sepekan ke Depan, Ini Prediksinya

Berita Terbaru

(NurPhoto via Getty Images/NurPhoto)

Internasional

Diserang Rudal Iran, Pangkalan Udara Utama Israel Mengalami Kerusakan

Kamis, 11 Jun 2026 - 13:00 WIB