Ramalan Terbaru Purbaya Soal Rupiah, Diprediksi Menguat Mulai Juli 2026

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 11 Juni 2026 - 12:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa/Foto: Pradita Utama

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa/Foto: Pradita Utama

Jakarta, Trendsberita.com – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa kembali menyampaikan pandangannya mengenai prospek nilai tukar rupiah setelah mata uang Garuda mengalami tekanan cukup besar sepanjang 2026. Purbaya optimistis rupiah akan mulai menguat secara bertahap pada semester kedua tahun ini dan bergerak menuju level yang lebih stabil pada 2027.

Pernyataan tersebut muncul di tengah pelemahan rupiah yang sempat menyentuh rekor terendah terhadap dolar Amerika Serikat dalam beberapa pekan terakhir. Namun, pemerintah dan Bank Indonesia menilai berbagai langkah stabilisasi yang telah dilakukan mulai menunjukkan hasil positif.

Purbaya Yakin Rupiah Menguat pada Semester II 2026

Dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI, Purbaya menyampaikan bahwa nilai tukar rupiah berpotensi kembali menguat secara bertahap mulai Juli hingga Desember 2026.

“Rupiah akan kembali menguat secara bertahap pada semester II-2026,” kata Purbaya.

Menurutnya, tekanan yang saat ini terjadi bersifat sementara dan dipengaruhi berbagai faktor eksternal maupun sentimen pasar. Pemerintah meyakini kondisi tersebut dapat membaik seiring langkah stabilisasi yang terus berjalan.

Target Rupiah Stabil di Rp16.800 per Dolar AS pada 2027

Selain optimistis terhadap pemulihan pada tahun ini, Purbaya juga memperkirakan rupiah mampu mencapai level yang lebih stabil pada 2027.

Pemerintah memasukkan asumsi nilai tukar sekitar Rp16.800 per dolar Amerika Serikat dalam kerangka ekonomi makro tahun depan. Angka tersebut menunjukkan optimisme pemerintah terhadap perbaikan kondisi pasar keuangan nasional.

Purbaya menilai berbagai kebijakan yang sedang dijalankan akan membantu memperkuat fundamental ekonomi Indonesia dan meningkatkan kepercayaan investor.

Baca Juga :  Defisit APBN Mei 2026 Capai Rp180,4 Triliun, Naik 76,32 Persen Secara Tahunan

Bank Indonesia dan Pemerintah Kompak Jaga Rupiah

Pemerintah tidak bekerja sendiri dalam menjaga stabilitas nilai tukar.

Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan telah menyepakati berbagai langkah untuk meningkatkan daya tarik aset keuangan Indonesia. Salah satu upaya yang dilakukan yaitu meningkatkan imbal hasil aset domestik guna menarik kembali aliran modal asing yang sempat keluar dari pasar Indonesia.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyatakan langkah tersebut bertujuan meningkatkan minat investor sekaligus memperkuat posisi rupiah di pasar global.

BI Naikkan Suku Bunga untuk Menahan Tekanan

Sebagai bagian dari strategi stabilisasi, Bank Indonesia secara mengejutkan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen pada 9 Juni 2026.

Kebijakan tersebut menjadi kenaikan suku bunga di luar jadwal pertama dalam delapan tahun terakhir. Bank Indonesia mengambil langkah tersebut setelah rupiah mengalami pelemahan lebih dalam dari perkiraan.

Setelah pengumuman tersebut, rupiah langsung menunjukkan penguatan dan pasar saham Indonesia ikut mencatat kenaikan yang signifikan.

Reformasi SDA Diyakini Perkuat Rupiah

Purbaya juga menaruh harapan besar pada reformasi sektor sumber daya alam (SDA).

Menurutnya, kebijakan yang berkaitan dengan pengelolaan hasil ekspor sumber daya alam dapat meningkatkan pasokan dolar di dalam negeri. Langkah tersebut berpotensi memperkuat cadangan devisa sekaligus membantu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Pemerintah meyakini semakin banyak devisa yang masuk ke pasar domestik akan memberikan dukungan tambahan terhadap penguatan rupiah dalam jangka menengah.

Baca Juga :  Harga Minyak Mendadak Naik Tinggi, Pasar Khawatir Pasokan Global Terganggu

Investor Mulai Merespons Positif

Sejumlah kebijakan terbaru mulai mendapat respons positif dari pasar.

Reuters melaporkan bahwa penguatan koordinasi antara kebijakan fiskal dan moneter berhasil meningkatkan kepercayaan investor setelah sebelumnya muncul kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi nasional.

Pasar juga merespons positif keputusan pemerintah menyesuaikan berbagai kebijakan fiskal untuk menjaga stabilitas ekonomi dan mengendalikan tekanan terhadap nilai tukar.

Tantangan Masih Membayangi

Meski optimistis, pemerintah tetap menghadapi sejumlah tantangan.

Ketidakpastian ekonomi global, konflik geopolitik di Timur Tengah, serta fluktuasi harga energi dunia masih berpotensi memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah. Selain itu, sentimen investor terhadap kebijakan fiskal dan kondisi pasar keuangan global juga akan turut menentukan arah rupiah dalam beberapa bulan ke depan.

Karena itu, pemerintah dan Bank Indonesia terus memantau perkembangan pasar sekaligus menyiapkan berbagai langkah antisipasi untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Fundamental Ekonomi Dinilai Tetap Kuat

Di tengah tekanan terhadap rupiah, Purbaya tetap menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih berada dalam kondisi yang baik.

Ia menilai pelemahan nilai tukar saat ini belum mencerminkan kondisi fundamental ekonomi secara keseluruhan. Pemerintah juga meyakini berbagai indikator ekonomi utama masih menunjukkan ketahanan yang cukup baik menghadapi tekanan global.

Optimisme tersebut menjadi dasar keyakinan pemerintah bahwa rupiah dapat kembali menguat setelah tekanan pasar mulai mereda.

Follow WhatsApp Channel trendsberita.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Harga Pertamax Naik Jadi Rp16.250 per Liter, Kelas Menengah Dinilai Paling Terbebani
PT DSI Jadi Perantara Tunggal Ekspor SDA, Kontrak Lama Tetap Berlaku
Resmi Dilantik, Nanik Fokus Efisiensi Anggaran dan Evaluasi MBG
Puluhan Gempa Guncang Kepulauan Sangihe, Terbesar M 6,8
MBG dan Kopdes Dianggap Bebani APBN, Ini Respons Menkeu Purbaya
Rupiah Tembus Rp19.000? Analis Ungkap Skenario Pelemahan Mata Uang RI
Ekspor Satu Pintu BUMN Resmi Berlaku, Harga Sawit dan Batu Bara Akan Diatur
Defisit APBN Mei 2026 Capai Rp180,4 Triliun, Naik 76,32 Persen Secara Tahunan
Berita ini 1 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 11 Juni 2026 - 12:00 WIB

Ramalan Terbaru Purbaya Soal Rupiah, Diprediksi Menguat Mulai Juli 2026

Kamis, 11 Juni 2026 - 11:00 WIB

Harga Pertamax Naik Jadi Rp16.250 per Liter, Kelas Menengah Dinilai Paling Terbebani

Selasa, 9 Juni 2026 - 13:00 WIB

PT DSI Jadi Perantara Tunggal Ekspor SDA, Kontrak Lama Tetap Berlaku

Selasa, 9 Juni 2026 - 10:00 WIB

Resmi Dilantik, Nanik Fokus Efisiensi Anggaran dan Evaluasi MBG

Selasa, 9 Juni 2026 - 09:00 WIB

Puluhan Gempa Guncang Kepulauan Sangihe, Terbesar M 6,8

Berita Terbaru

(NurPhoto via Getty Images/NurPhoto)

Internasional

Diserang Rudal Iran, Pangkalan Udara Utama Israel Mengalami Kerusakan

Kamis, 11 Jun 2026 - 13:00 WIB