Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali bergerak melemah pada perdagangan Jumat, 8 Mei 2026. Tekanan tersebut membuat mata uang Garuda kembali masuk ke zona merah setelah sebelumnya sempat menunjukkan penguatan terbatas pada beberapa sesi perdagangan.
Di pasar spot, pelaku pasar mencatat bahwa rupiah dibuka melemah seiring meningkatnya sentimen global yang cenderung risk-off. Kondisi ini memperkuat dominasi dolar AS yang masih menjadi aset safe haven di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.
Analis pasar valuta asing menilai pelemahan rupiah kali ini bukan hanya dipengaruhi faktor domestik, tetapi juga tekanan eksternal yang cukup kuat, terutama dari kebijakan suku bunga tinggi Amerika Serikat serta meningkatnya volatilitas geopolitik global.
Sentimen Global Jadi Faktor Utama Pelemahan Rupiah
Tekanan terhadap rupiah tidak datang secara tiba-tiba. Dalam beberapa pekan terakhir, pasar keuangan global berada dalam kondisi tidak stabil akibat kombinasi beberapa faktor besar.
Pertama, ekspektasi bahwa Federal Reserve masih akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama membuat aliran modal global kembali ke Amerika Serikat. Kondisi ini mengurangi minat investor terhadap aset negara berkembang, termasuk Indonesia.
Kedua, ketegangan geopolitik di beberapa kawasan dunia juga mendorong investor untuk mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman. Dolar AS dan obligasi pemerintah Amerika menjadi tujuan utama peralihan dana tersebut.
Seorang analis pasar uang menyebutkan bahwa tekanan terhadap rupiah masih akan berlanjut selama sentimen global belum stabil.
“Selama The Fed belum memberi sinyal penurunan suku bunga yang jelas, mata uang emerging market seperti rupiah akan tetap berada dalam tekanan,” ujarnya dalam catatan pasar harian.
Bank Indonesia Diperkirakan Tetap Intervensi
Di sisi domestik, Bank Indonesia (BI) diperkirakan tetap melakukan langkah stabilisasi melalui intervensi di pasar valuta asing. Intervensi ini dilakukan baik di pasar spot maupun non-deliverable forward (NDF) untuk menjaga volatilitas rupiah agar tidak terlalu dalam.
Langkah stabilisasi ini menjadi strategi utama BI dalam beberapa bulan terakhir di tengah meningkatnya tekanan eksternal.
Sejumlah ekonom menilai bahwa intervensi BI cukup efektif menahan pelemahan yang lebih dalam, meskipun tidak mampu membalikkan tren global secara langsung.
“Intervensi hanya meredam volatilitas jangka pendek. Arah besar rupiah tetap dipengaruhi arus modal global,” kata seorang ekonom pasar uang.
Tekanan Rupiah Terlihat Konsisten dalam Beberapa Pekan
Jika melihat tren beberapa waktu terakhir, rupiah memang menunjukkan pola fluktuasi yang cukup tinggi. Dalam beberapa sesi perdagangan sebelumnya, rupiah sempat bergerak menguat terbatas, namun kembali tertekan saat sentimen global memburuk.
Data pasar menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah sudah berlangsung sejak awal kuartal kedua 2026, seiring meningkatnya ketidakpastian global dan arus keluar modal asing dari pasar negara berkembang.
Situasi ini membuat pelaku pasar bersikap lebih hati-hati dalam mengambil posisi di aset berisiko.
Dampak ke Pasar Domestik Masih Terkendali
Meski mengalami tekanan, dampak pelemahan rupiah terhadap pasar domestik sejauh ini masih relatif terkendali. Pasar saham Indonesia memang sempat mengalami fluktuasi, namun tidak menunjukkan penurunan tajam yang signifikan.
Di sektor riil, pelaku usaha mulai mengantisipasi potensi kenaikan biaya impor, terutama untuk bahan baku yang masih bergantung pada dolar AS.
Beberapa sektor yang paling sensitif terhadap pergerakan rupiah antara lain:
- Industri manufaktur berbasis impor
- Sektor energi dan migas
- Elektronik dan otomotif
- Industri farmasi
Namun demikian, sebagian eksportir justru mendapatkan keuntungan dari pelemahan rupiah karena pendapatan dalam dolar AS menjadi lebih besar ketika dikonversi ke rupiah.
Prospek Rupiah ke Depan Masih Penuh Ketidakpastian
Ke depan, arah pergerakan rupiah masih akan sangat bergantung pada dua faktor utama, yaitu kebijakan moneter Amerika Serikat dan stabilitas ekonomi global.
Jika The Fed mulai memberikan sinyal penurunan suku bunga, maka ada peluang bagi rupiah untuk kembali menguat. Namun jika suku bunga tinggi bertahan lebih lama, tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih akan berlanjut.
Selain itu, faktor internal seperti inflasi domestik, neraca perdagangan, dan arus investasi asing juga akan menjadi penentu penting.
Sejumlah analis memperkirakan bahwa rupiah akan tetap bergerak dalam kisaran volatil dalam jangka pendek, dengan kecenderungan melemah terbatas jika tekanan global tidak mereda.









