Aramco Peringatkan Dunia Dekati Krisis Bahan Bakar Parah, Pasokan Minyak Global Terancam

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 13 Mei 2026 - 13:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

CEO Aramco Amin Nasser. Foto/anadolu

CEO Aramco Amin Nasser. Foto/anadolu

trendsberita.com – Perusahaan minyak terbesar dunia, Saudi Aramco, memperingatkan dunia bahwa krisis bahan bakar global semakin dekat. Gangguan distribusi minyak akibat konflik di kawasan Timur Tengah membuat pasokan energi dunia terus menurun dan memicu kekhawatiran terhadap lonjakan harga bahan bakar dalam beberapa bulan ke depan.

CEO Saudi Aramco, Amin Nasser, menyebut dunia saat ini menghadapi salah satu guncangan energi terbesar sepanjang sejarah modern. Menurut dia, pasar minyak global kehilangan sekitar 1 miliar barel minyak dalam dua bulan terakhir akibat terganggunya jalur distribusi melalui Selat Hormuz.

Selat Hormuz selama ini menjadi jalur utama distribusi minyak dunia. Sekitar 20 persen pasokan minyak global melewati kawasan tersebut setiap hari. Konflik berkepanjangan di wilayah Timur Tengah membuat aktivitas kapal tanker minyak terganggu dan mempersempit distribusi energi ke berbagai negara.

Aramco Sebut Pasar Energi Masuk Masa Sulit

Amin Nasser menilai kondisi pasar energi global tidak akan kembali normal dalam waktu singkat. Bahkan jika jalur distribusi kembali dibuka, pasar tetap membutuhkan waktu panjang untuk menstabilkan pasokan minyak dunia.

Aramco memperkirakan dunia kehilangan sekitar 100 juta barel minyak setiap pekan selama gangguan distribusi masih berlangsung. Kondisi tersebut membuat stok bahan bakar global terus menipis.

Nasser juga mengingatkan bahwa dunia selama ini kurang berinvestasi pada sektor energi. Akibatnya, cadangan minyak dan kapasitas produksi global tidak cukup kuat menghadapi gangguan besar seperti sekarang.

“Guncangan pasokan energi ini menjadi yang terbesar di dunia,” kata Amin Nasser dalam pernyataannya.

Selat Hormuz Jadi Titik Paling Krusial

Selat Hormuz memiliki peran penting dalam rantai distribusi minyak dunia. Jalur laut tersebut menghubungkan negara-negara penghasil minyak Timur Tengah dengan pasar global seperti Asia, Eropa, dan Amerika.

Ketika konflik memanas dan aktivitas pelayaran terganggu, distribusi minyak ikut melambat. Banyak negara mulai khawatir karena pasokan energi mereka bergantung pada jalur tersebut.

Baca Juga :  Trump Ancam Serang Infrastruktur Iran Jika Selat Hormuz Tak Dibuka

Aramco kini memaksimalkan jalur pipa East-West Pipeline untuk mengalihkan distribusi minyak ke Laut Merah tanpa melewati Selat Hormuz. Jalur tersebut mampu menyalurkan hingga 7 juta barel minyak per hari.

Namun, kapasitas alternatif itu tetap belum mampu menggantikan seluruh distribusi minyak yang hilang akibat gangguan di Selat Hormuz.

Harga BBM Dunia Terancam Naik

Gangguan pasokan minyak global mulai memicu kenaikan harga energi di berbagai negara. Banyak analis memperkirakan harga BBM dunia dapat melonjak jika konflik terus berlanjut.

Beberapa negara bahkan mulai menggunakan cadangan minyak strategis untuk menjaga stabilitas pasokan domestik. International Energy Agency (IEA) juga telah mengoordinasikan pelepasan cadangan minyak dalam jumlah besar guna mengurangi tekanan pasar.

Meski begitu, para pengamat menilai langkah tersebut hanya memberi efek sementara. Jika distribusi minyak tetap terganggu hingga pertengahan tahun, dunia berpotensi menghadapi krisis energi yang lebih besar.

Kenaikan harga minyak mentah biasanya ikut memicu lonjakan harga transportasi, logistik, dan kebutuhan pokok. Dampaknya dapat memperburuk inflasi global yang saat ini masih tinggi di banyak negara.

Aramco Prediksi Pemulihan Bisa Sampai 2027

Aramco memperkirakan pasar minyak global baru bisa kembali stabil pada 2027 jika gangguan distribusi terus berlangsung dalam beberapa pekan ke depan. Perusahaan itu menilai proses pemulihan tidak hanya bergantung pada pembukaan jalur distribusi, tetapi juga pada pemulihan stok minyak global.

Amin Nasser mengatakan pasar minyak membutuhkan waktu lama untuk menyeimbangkan kembali pasokan dan permintaan setelah kehilangan miliaran barel minyak.

Selain itu, banyak negara saat ini memiliki stok energi yang lebih rendah dibanding beberapa tahun lalu. Kondisi tersebut membuat dunia lebih rentan terhadap gejolak harga minyak.

Financial Times melaporkan stok bensin dan bahan bakar jet global kini menuju level kritis akibat terganggunya distribusi energi dunia.

Baca Juga :  Cara Indonesia Hadapi Dampak Selat Hormuz, Jalur Energi Dunia yang Terancam

Dunia Mulai Siapkan Langkah Darurat

Sejumlah negara mulai menyiapkan langkah darurat untuk mengantisipasi lonjakan harga energi. Amerika Serikat bahkan mempertimbangkan penghentian sementara pajak bahan bakar demi menekan harga BBM domestik.

Negara-negara industri juga terus memantau perkembangan konflik Timur Tengah karena dampaknya dapat memengaruhi pertumbuhan ekonomi global.

Para analis menilai krisis energi kali ini berbeda dibanding beberapa tahun sebelumnya. Selain dipicu konflik geopolitik, dunia juga menghadapi tekanan akibat tingginya permintaan energi dan minimnya investasi sektor minyak dalam beberapa tahun terakhir.

Jika kondisi terus memburuk, masyarakat di berbagai negara bisa menghadapi kenaikan harga BBM, tarif transportasi, hingga biaya logistik dalam waktu dekat.

Asia Jadi Wilayah Paling Rentan

Asia menjadi kawasan yang paling rentan terhadap gangguan pasokan minyak dunia karena sebagian besar negara di kawasan tersebut sangat bergantung pada impor energi dari Timur Tengah.

Aramco sendiri menegaskan Asia tetap menjadi pasar utama perusahaan karena permintaan energi di kawasan itu terus meningkat.

Negara-negara seperti China, Jepang, Korea Selatan, dan India diperkirakan akan terkena dampak besar jika distribusi minyak melalui Selat Hormuz terus terganggu.

Kondisi tersebut juga dapat memengaruhi harga barang dan biaya produksi industri di Asia, termasuk sektor transportasi dan manufaktur.

Krisis Energi Bisa Ganggu Ekonomi Dunia

Pengamat ekonomi menilai krisis energi global berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia. Lonjakan harga minyak biasanya langsung memengaruhi inflasi, biaya industri, dan daya beli masyarakat.

Aramco mengingatkan dunia perlu memperkuat ketahanan energi agar tidak terlalu rentan terhadap konflik geopolitik. Perusahaan itu juga menilai investasi sektor energi masih menjadi faktor penting untuk menjaga stabilitas pasokan global.

Jika gangguan distribusi terus berlangsung, dunia berpotensi menghadapi salah satu krisis energi terbesar dalam beberapa dekade terakhir.

Follow WhatsApp Channel trendsberita.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Australia Pastikan 6 Penumpang Terinfeksi Hantavirus dalam Kondisi Sehat
California Gugat Meta, Tuduh Untung Besar dari Iklan Penipuan di Facebook dan Instagram
May Day 2026: 360 Ribu Buruh Jerman Turun ke Jalan
Pilot Jet Tempur Selfie di Udara Berujung Tabrakan, Angkatan Udara Minta Maaf
Hujan Meteor Lyrid 2026 Puncak 22–23 April, Bisa Dilihat di Indonesia
Tanker LPG RI Lewati Selat Hormuz Bukan Milik Pertamina, Ini Penjelasan Lengkapnya
Blokade Selat Hormuz Memanas, Militer AS Klaim Usir 27 Kapal dalam Sepekan
BRICS Makin Kuat, Tantang Dominasi G7 dan Kuasai Hampir 40% Ekonomi Dunia di 2025
Berita ini 1 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 12 Mei 2026 - 19:00 WIB

Australia Pastikan 6 Penumpang Terinfeksi Hantavirus dalam Kondisi Sehat

Selasa, 12 Mei 2026 - 13:00 WIB

California Gugat Meta, Tuduh Untung Besar dari Iklan Penipuan di Facebook dan Instagram

Minggu, 3 Mei 2026 - 18:00 WIB

May Day 2026: 360 Ribu Buruh Jerman Turun ke Jalan

Kamis, 23 April 2026 - 20:00 WIB

Pilot Jet Tempur Selfie di Udara Berujung Tabrakan, Angkatan Udara Minta Maaf

Rabu, 22 April 2026 - 17:00 WIB

Hujan Meteor Lyrid 2026 Puncak 22–23 April, Bisa Dilihat di Indonesia

Berita Terbaru