Blokade Selat Hormuz Memanas, Militer AS Klaim Usir 27 Kapal dalam Sepekan

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 21 April 2026 - 20:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

AS Klaim sudah usir 27 kapal saat blokade Selat Hormuz. (X/@CENTCOM)

AS Klaim sudah usir 27 kapal saat blokade Selat Hormuz. (X/@CENTCOM)

trendsberita.c0m – Situasi di Selat Hormuz kembali memanas seiring meningkatnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Jalur laut strategis yang menjadi pusat distribusi energi dunia itu kini berada dalam tekanan militer yang tinggi.

Militer AS melalui Komando Pusat atau CENTCOM melaporkan hasil operasi terbaru mereka. Dalam sepekan terakhir, pasukan AS berhasil memaksa puluhan kapal berbalik arah dari wilayah perairan Iran.

Militer AS Klaim Usir 27 Kapal

CENTCOM menyatakan bahwa pasukan mereka telah mengusir 27 kapal sejak awal penerapan blokade. Kapal-kapal tersebut mencoba masuk atau keluar dari pelabuhan Iran.

Militer AS secara aktif memberi peringatan kepada kapal yang mendekati wilayah tersebut. Jika kapal tidak mematuhi peringatan, pasukan laut langsung mengambil tindakan tegas di lapangan.

Dalam pernyataan resmi, CENTCOM menegaskan bahwa operasi ini bertujuan mengontrol lalu lintas laut di sekitar Iran. Mereka juga ingin memastikan kapal tidak melanggar aturan blokade yang telah ditetapkan.

Insiden Kapal Kargo Dilumpuhkan

Ketegangan meningkat saat pasukan AS menghadapi kapal kargo bernama Touska. Kapal tersebut mencoba menerobos blokade di wilayah Teluk Oman.

Angkatan Laut AS melalui kapal perusak USS Spruance langsung memberikan peringatan. Namun kapal itu tidak merespons perintah yang diberikan.

Baca Juga :  AS Kirim Destroyer dan Kapal Induk ke Selat Hormuz, Ini Kekuatan Militernya

Karena itu, pasukan AS menembak sistem propulsi kapal untuk menghentikan lajunya. Setelah berhasil menghentikan kapal, pasukan kemudian menyita dan memeriksa muatan di dalamnya.

Langkah ini menunjukkan peningkatan intensitas operasi militer di kawasan tersebut.

Blokade Laut Picu Dampak Global

Blokade di Selat Hormuz tidak hanya berdampak pada kawasan regional. Jalur ini merupakan salah satu rute utama distribusi minyak dunia.

Sekitar 20 persen pasokan energi global melewati jalur ini. Oleh karena itu, setiap gangguan langsung memengaruhi stabilitas ekonomi global.

Sejumlah kapal komersial memilih menghindari wilayah tersebut. Mereka khawatir terhadap risiko konflik dan tindakan militer yang semakin agresif.

Latar Belakang Konflik

Konflik di kawasan ini berawal dari eskalasi militer antara AS dan Iran pada awal 2026. Ketegangan meningkat setelah serangkaian serangan dan kegagalan perundingan damai.

Setelah negosiasi gagal, AS langsung menerapkan blokade laut terhadap Iran. Langkah ini bertujuan menekan aktivitas maritim yang berkaitan dengan kepentingan Iran.

Di sisi lain, Iran menilai blokade tersebut melanggar hukum internasional. Mereka juga mengancam akan memberikan respons jika tekanan terus berlanjut.

Baca Juga :  PBB Konfirmasi Tiga Prajurit TNI Gugur di Lebanon Saat Bertugas sebagai Peacekeeper

Respons dan Ancaman Balasan Iran

Pihak Iran tidak tinggal diam. Militer Iran berulang kali menyampaikan ancaman balasan terhadap tindakan AS.

Mereka menegaskan akan mempertahankan kontrol atas wilayah perairan mereka. Selain itu, Iran juga memperingatkan kapal militer asing agar tidak mendekati area sensitif.

Ketegangan ini membuat situasi di Selat Hormuz semakin tidak stabil. Risiko konflik terbuka pun terus meningkat dari waktu ke waktu.

Dampak terhadap Perdagangan dan Energi

Blokade ini langsung memengaruhi perdagangan global. Banyak perusahaan pelayaran menunda pengiriman karena risiko tinggi.

Selain itu, harga minyak dunia berpotensi naik akibat gangguan distribusi. Negara-negara yang bergantung pada impor energi mulai mengantisipasi dampak krisis ini.

Para analis menilai konflik di Selat Hormuz dapat memicu ketidakstabilan ekonomi global jika terus berlanjut.

Kesimpulan

Militer AS mengklaim keberhasilan operasi dengan mengusir 27 kapal dalam sepekan. Namun tindakan ini justru memperbesar ketegangan dengan Iran.

Selat Hormuz kini menjadi titik panas geopolitik yang berisiko tinggi. Jika konflik tidak mereda, dampaknya bisa meluas ke sektor energi dan ekonomi global.

Follow WhatsApp Channel trendsberita.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

May Day 2026: 360 Ribu Buruh Jerman Turun ke Jalan
Pilot Jet Tempur Selfie di Udara Berujung Tabrakan, Angkatan Udara Minta Maaf
Hujan Meteor Lyrid 2026 Puncak 22–23 April, Bisa Dilihat di Indonesia
Tanker LPG RI Lewati Selat Hormuz Bukan Milik Pertamina, Ini Penjelasan Lengkapnya
BRICS Makin Kuat, Tantang Dominasi G7 dan Kuasai Hampir 40% Ekonomi Dunia di 2025
Negosiasi AS–Iran Buntu, Negara-Negara Arab Mulai Cemas Hadapi Dampak Ketegangan Baru
Menhan Sjafrie Sjamsoeddin Kunjungi Pentagon: Hubungan RI-AS Naik ke Level Strategis Baru
BRI (BBRI) Rilis Jadwal Dividen Final Rp31,47 Triliun, Ini Tanggal Pentingnya
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 3 Mei 2026 - 18:00 WIB

May Day 2026: 360 Ribu Buruh Jerman Turun ke Jalan

Kamis, 23 April 2026 - 20:00 WIB

Pilot Jet Tempur Selfie di Udara Berujung Tabrakan, Angkatan Udara Minta Maaf

Rabu, 22 April 2026 - 17:00 WIB

Hujan Meteor Lyrid 2026 Puncak 22–23 April, Bisa Dilihat di Indonesia

Rabu, 22 April 2026 - 15:00 WIB

Tanker LPG RI Lewati Selat Hormuz Bukan Milik Pertamina, Ini Penjelasan Lengkapnya

Selasa, 21 April 2026 - 20:00 WIB

Blokade Selat Hormuz Memanas, Militer AS Klaim Usir 27 Kapal dalam Sepekan

Berita Terbaru