BRICS Makin Kuat, Tantang Dominasi G7 dan Kuasai Hampir 40% Ekonomi Dunia di 2025

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 21 April 2026 - 13:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Presiden Rusia Vladimir Putin (kanan) dan Presiden Tiongkok Xi Jinping berjabat tangan saat pertemuan di sela-sela KTT BRICS di Kazan Kremlin, Kazan, Rusia, Selasa, 22 Oktober 2024. FOTO/AP

Presiden Rusia Vladimir Putin (kanan) dan Presiden Tiongkok Xi Jinping berjabat tangan saat pertemuan di sela-sela KTT BRICS di Kazan Kremlin, Kazan, Rusia, Selasa, 22 Oktober 2024. FOTO/AP

trendsberita.com – Kekuatan ekonomi dunia berubah cepat dalam beberapa tahun terakhir. BRICS kini tampil sebagai salah satu blok ekonomi paling berpengaruh di dunia. Pada 2025, kelompok ini berhasil menguasai hampir 40 persen ekonomi global berdasarkan perhitungan paritas daya beli.

Perubahan ini tidak terjadi dalam semalam. BRICS terus memperluas kerja sama, memperkuat perdagangan, dan mendorong pertumbuhan ekonomi di antara negara anggotanya.

Sementara itu, G7 masih memegang peran besar, tetapi pengaruhnya mulai berkurang jika dibandingkan dengan beberapa dekade lalu.

BRICS Catat Peningkatan Besar dalam Ekonomi Global

Data terbaru menunjukkan BRICS terus meningkatkan kontribusinya terhadap ekonomi dunia. Pada 2025, pangsa ekonomi kelompok ini mencapai sekitar 39,2 persen.

Angka ini menunjukkan lonjakan besar jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi di negara anggota BRICS mendorong peningkatan tersebut.

Beberapa negara seperti China, India, dan Brasil menjadi motor utama pertumbuhan dalam kelompok ini. Mereka mendorong ekspansi industri, perdagangan, dan investasi.

Pemerintah di negara anggota BRICS juga aktif memperkuat kerja sama ekonomi lintas negara.

G7 Kehilangan Dominasi Bertahap

Di sisi lain, G7 mengalami penurunan pangsa ekonomi global. Pada 2025, kontribusi G7 turun menjadi sekitar 28,3 persen.

Jika dibandingkan dengan kondisi 30 tahun lalu, penurunan ini terlihat cukup signifikan. Pada era 1990-an, G7 masih mendominasi lebih dari separuh ekonomi dunia.

Perubahan ini terjadi karena negara berkembang tumbuh lebih cepat. Sementara itu, negara maju mengalami pertumbuhan yang lebih lambat.

Kondisi ini membuat peta ekonomi global berubah secara bertahap.

Pertumbuhan BRICS Lebih Cepat dari Dunia

BRICS mencatat pertumbuhan ekonomi sekitar 3,4 persen pada 2025. Angka ini lebih tinggi dari rata-rata pertumbuhan global yang berada di sekitar 2,8 persen.

Baca Juga :  Futures Emas Melemah di Perdagangan Asia, Investor Tunggu Arah Pasar Global

Sebaliknya, G7 hanya mencatat pertumbuhan sekitar 1,2 persen pada periode yang sama.

Perbedaan ini menunjukkan bahwa negara berkembang kini menjadi penggerak utama ekonomi dunia.

India dan China memainkan peran penting dalam mendorong pertumbuhan tersebut. Kedua negara ini terus memperluas sektor industri dan teknologi.

India Dorong Penguatan BRICS

India memainkan peran aktif dalam memperkuat BRICS. Saat menjadi tuan rumah pertemuan BRICS, India mendorong agenda kerja sama yang lebih luas.

Negara ini fokus pada pengembangan pendidikan, teknologi, dan ekonomi berkelanjutan.

India juga mendorong negara anggota untuk meningkatkan perdagangan satu sama lain.

Langkah ini memperkuat posisi BRICS sebagai kelompok ekonomi yang semakin solid.

Transaksi Non-Dolar Semakin Meningkat

Salah satu perubahan besar dalam BRICS terlihat pada penggunaan mata uang dalam perdagangan.

Negara anggota mulai mengurangi ketergantungan pada dolar Amerika Serikat. Mereka meningkatkan transaksi menggunakan mata uang lokal.

Pada 2025, nilai perdagangan intra-BRICS tanpa dolar mencapai lebih dari 1 triliun dolar AS.

Perubahan ini menunjukkan arah baru dalam sistem perdagangan global.

Banyak pengamat menilai tren ini sebagai langkah menuju kemandirian finansial.

Perluasan Anggota Perkuat Posisi BRICS

BRICS semakin kuat setelah menerima anggota baru. Indonesia, Mesir, Uni Emirat Arab, Ethiopia, dan Iran bergabung dalam kelompok ini.

Dengan perluasan ini, BRICS mencakup lebih banyak negara dengan kekuatan ekonomi besar.

Kelompok ini juga mewakili lebih dari 40 persen ekonomi dunia dan lebih dari setengah populasi global.

Baca Juga :  Iran Kembali Eksekusi Mati 2 Anggota Kelompok Oposisi Terlaran

Perluasan ini memperkuat posisi BRICS dalam ekonomi internasional.

Sumber Daya Jadi Keunggulan Utama

Negara-negara BRICS memiliki sumber daya alam yang besar. Mereka menguasai energi, mineral, dan bahan pangan penting.

Kondisi ini memberi mereka keunggulan dalam perdagangan global.

Selain itu, pasar domestik di negara anggota BRICS terus tumbuh. Kelas menengah berkembang pesat di banyak negara.

Hal ini meningkatkan konsumsi dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Tantangan Masih Menghantui BRICS

Meski berkembang pesat, BRICS masih menghadapi tantangan internal. Perbedaan kebijakan antarnegara sering muncul dalam beberapa isu.

Setiap negara memiliki kepentingan ekonomi dan politik yang berbeda.

Namun, mereka tetap menjaga kerja sama melalui forum diskusi rutin.

Konsensus menjadi kunci agar kerja sama tetap berjalan.

Peta Ekonomi Dunia Mulai Berubah

Perkembangan BRICS dan G7 menunjukkan perubahan besar dalam ekonomi global.

Negara berkembang kini memiliki peran lebih besar dalam pertumbuhan dunia.

Negara maju masih kuat di sektor teknologi dan keuangan, tetapi pengaruhnya mulai berkurang secara perlahan.

Kondisi ini menciptakan keseimbangan baru dalam ekonomi global.

Penutup

BRICS kini menjadi kekuatan ekonomi besar yang tidak bisa diabaikan. Pada 2025, kelompok ini menguasai hampir 40 persen ekonomi dunia.

G7 masih memiliki pengaruh besar, tetapi posisinya mulai menurun dibandingkan beberapa dekade lalu.

Perubahan ini menandai babak baru dalam ekonomi global. Dunia kini bergerak menuju sistem yang lebih seimbang antara negara maju dan negara berkembang.

Ke depan, kerja sama dan persaingan antara kedua blok ini akan terus membentuk arah ekonomi dunia.

Follow WhatsApp Channel trendsberita.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

May Day 2026: 360 Ribu Buruh Jerman Turun ke Jalan
Pilot Jet Tempur Selfie di Udara Berujung Tabrakan, Angkatan Udara Minta Maaf
Hujan Meteor Lyrid 2026 Puncak 22–23 April, Bisa Dilihat di Indonesia
Tanker LPG RI Lewati Selat Hormuz Bukan Milik Pertamina, Ini Penjelasan Lengkapnya
Blokade Selat Hormuz Memanas, Militer AS Klaim Usir 27 Kapal dalam Sepekan
Negosiasi AS–Iran Buntu, Negara-Negara Arab Mulai Cemas Hadapi Dampak Ketegangan Baru
Menhan Sjafrie Sjamsoeddin Kunjungi Pentagon: Hubungan RI-AS Naik ke Level Strategis Baru
BRI (BBRI) Rilis Jadwal Dividen Final Rp31,47 Triliun, Ini Tanggal Pentingnya
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 3 Mei 2026 - 18:00 WIB

May Day 2026: 360 Ribu Buruh Jerman Turun ke Jalan

Kamis, 23 April 2026 - 20:00 WIB

Pilot Jet Tempur Selfie di Udara Berujung Tabrakan, Angkatan Udara Minta Maaf

Rabu, 22 April 2026 - 17:00 WIB

Hujan Meteor Lyrid 2026 Puncak 22–23 April, Bisa Dilihat di Indonesia

Rabu, 22 April 2026 - 15:00 WIB

Tanker LPG RI Lewati Selat Hormuz Bukan Milik Pertamina, Ini Penjelasan Lengkapnya

Selasa, 21 April 2026 - 20:00 WIB

Blokade Selat Hormuz Memanas, Militer AS Klaim Usir 27 Kapal dalam Sepekan

Berita Terbaru