trendsberita.com – Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Provinsi Jambi kembali mengalami penurunan. Dinas Perkebunan (Disbun) Jambi menetapkan harga terbaru berada di level Rp3.860 per kilogram untuk periode perdagangan terbaru.
Penurunan ini membuat petani sawit kembali menghadapi tekanan pendapatan. Banyak petani menyebut kondisi tersebut memperburuk situasi setelah beberapa minggu sebelumnya harga sempat bergerak stabil.
Di lapangan, petani mulai merasakan dampak langsung dari koreksi harga tersebut karena biaya produksi tetap tinggi, sementara harga jual turun.
Petani Sawit Kembali Mengeluh
Sejumlah petani di Jambi menyampaikan bahwa penurunan harga TBS langsung memengaruhi arus kas harian mereka. Mereka tetap harus mengeluarkan biaya pupuk, tenaga panen, dan transportasi yang tidak ikut turun.
Petani menilai kondisi ini membuat keuntungan semakin menipis. Sebagian petani bahkan mengaku harus menunda perawatan kebun karena pendapatan tidak lagi seimbang dengan biaya produksi.
Penurunan harga juga membuat sebagian petani swadaya lebih berhati-hati dalam menjual hasil panen karena khawatir harga kembali turun dalam waktu dekat.
Faktor Global Tekan Harga TBS
Penurunan harga TBS di Jambi tidak berdiri sendiri. Tekanan datang dari pasar global yang masih berfluktuasi.
Harga Crude Palm Oil (CPO) sebagai komponen utama pembentuk harga TBS ikut mengalami tekanan akibat:
- Penurunan permintaan dari beberapa negara importir
- Kenaikan stok minyak nabati global
- Ketidakpastian ekonomi internasional
- Penguatan dolar Amerika Serikat
Kondisi ini membuat harga sawit di tingkat petani ikut bergerak turun.
Mekanisme Penetapan Harga Masih Mengacu Pasar
Dinas Perkebunan Jambi menetapkan harga TBS berdasarkan hasil rapat tim penetapan harga. Tim ini melibatkan pemerintah daerah, perusahaan pabrik kelapa sawit (PKS), dan perwakilan petani.
Harga yang ditetapkan mengacu pada:
- Harga rata-rata CPO
- Harga kernel (inti sawit)
- Indeks K yang berlaku
- Data transaksi industri
Setiap perubahan harga di pasar global langsung berdampak pada hasil perhitungan mingguan di daerah.
Dampak Langsung ke Ekonomi Petani
Penurunan ke level Rp3.860/kg memberi dampak langsung pada pendapatan petani. Dalam kondisi normal, petani sawit di Jambi mengandalkan TBS sebagai sumber pendapatan utama harian atau mingguan.
Ketika harga turun, margin keuntungan ikut menyempit. Petani dengan lahan kecil menjadi kelompok paling rentan karena tidak memiliki skala produksi besar untuk menutup penurunan harga.
Selain itu, petani juga menghadapi tantangan lain seperti:
- Biaya pupuk yang masih tinggi
- Fluktuasi hasil panen
- Ketergantungan pada tengkulak di beberapa wilayah
Pemerintah Diminta Jaga Stabilitas Harga
Sejumlah pelaku perkebunan meminta pemerintah daerah memperkuat stabilitas harga TBS. Mereka berharap mekanisme penetapan harga bisa lebih transparan dan responsif terhadap kondisi petani.
Petani juga mendorong adanya penguatan sistem kemitraan dengan pabrik kelapa sawit agar harga di tingkat petani tidak terlalu jauh dari harga acuan.
Selain itu, program peremajaan sawit rakyat (PSR) dinilai penting untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi jangka panjang.
Tren Harga Sawit Masih Berpotensi Fluktuatif
Analis komoditas menilai harga sawit masih berpotensi bergerak naik-turun dalam waktu dekat. Pasar global minyak nabati masih belum stabil.
Jika permintaan ekspor meningkat, harga bisa kembali naik. Namun jika stok global bertambah, tekanan harga bisa berlanjut.
Situasi ini membuat petani harus menghadapi ketidakpastian dalam menentukan waktu terbaik menjual hasil panen.









