Trendsberita – Pemerintah Indonesia mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk segera mengambil tindakan tegas setelah sejumlah prajurit TNI menjadi korban dalam misi perdamaian di Lebanon.
Insiden terbaru terjadi di Lebanon selatan, di mana tiga prajurit TNI dilaporkan terluka akibat ledakan. Peristiwa ini menambah daftar panjang korban setelah sebelumnya tiga prajurit gugur dalam serangan pada akhir Maret.
Menteri Luar Negeri Sugiono menyampaikan kecaman keras atas serangan tersebut. Ia menegaskan bahwa Indonesia menuntut adanya investigasi menyeluruh terhadap insiden yang menimpa pasukan perdamaian.
Menurutnya, prajurit TNI yang bertugas di bawah misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) tidak dilengkapi untuk operasi tempur, melainkan untuk menjaga perdamaian. Karena itu, keamanan mereka harus dijamin penuh oleh semua pihak.
Pemerintah Indonesia juga meminta PBB melakukan evaluasi serius terhadap sistem perlindungan pasukan perdamaian. Hal ini dinilai penting agar kejadian serupa tidak kembali terulang di masa mendatang.
Selain itu, Indonesia melalui perwakilannya di New York telah meminta Dewan Keamanan PBB menggelar rapat untuk membahas situasi tersebut.
Data sementara menunjukkan, hingga saat ini sedikitnya 11 prajurit TNI telah menjadi korban dalam berbagai insiden di Lebanon, baik yang gugur maupun terluka.
Pemerintah menegaskan bahwa keselamatan personel yang bertugas dalam misi perdamaian harus menjadi prioritas utama dalam setiap keputusan dan kebijakan internasional.









