Jakarta, trendsberita.com – Perkembangan perangkat pintar berbasis kecerdasan buatan semakin mengubah cara manusia menjalani aktivitas sehari-hari. Salah satu perangkat yang mendapat sorotan adalah AI smartwatch, perangkat wearable yang kini tidak hanya mencatat aktivitas fisik, tetapi juga mulai memberikan rekomendasi dan membaca pola perilaku pengguna.
Sejumlah akademisi menilai perkembangan ini membawa manfaat besar, tetapi juga memunculkan tantangan baru terkait hubungan manusia dan teknologi.
AI Smartwatch Hadir Lebih dari Sekadar Alat Pendukung
Smartwatch generasi baru tidak lagi berfungsi sebagai alat penunjuk waktu atau pelacak langkah.
Perangkat ini mampu membaca data tubuh seperti detak jantung, kualitas tidur, pola aktivitas, hingga menghasilkan rekomendasi berbasis algoritma. Kemampuan tersebut membuat perangkat menjadi semakin terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari.
Di sisi lain, penggunaan teknologi yang semakin intens juga memunculkan pertanyaan mengenai batas antara bantuan teknologi dan ketergantungan pengguna.
Akademisi Ingatkan Manusia Tetap Jadi Pengendali
Dalam kajian yang disorot, akademisi menekankan bahwa manusia tetap harus menjadi pihak yang mengendalikan teknologi.
Ressa Uli Patrissia menyampaikan bahwa meskipun teknologi memberi banyak manfaat, pengguna perlu menjaga kemampuan mengambil keputusan secara mandiri.
Ia mengingatkan, “Jangan tergantung sepenuhnya pada teknologi, apalagi diarahkan oleh teknologi.”
Pandangan tersebut menyoroti pentingnya kesadaran pengguna ketika berinteraksi dengan perangkat berbasis AI.
Data Tubuh dan Privasi Jadi Perhatian
AI smartwatch bekerja dengan mengumpulkan data dalam jumlah besar agar dapat menghasilkan rekomendasi yang lebih personal.
Data tersebut dapat mencakup:
- detak jantung
- pola tidur
- aktivitas harian
- kebiasaan penggunaan
Karena itu, akademisi menilai literasi digital dan pemahaman mengenai penggunaan data menjadi semakin penting di era perangkat pintar.
Hubungan Manusia dan Teknologi Makin Kompleks
Ketua Program Studi Doktor Ilmu Komunikasi Sekolah Pascasarjana Universitas Sahid, Dr. Prasetya Yoga Santosa, menilai perkembangan ini menunjukkan arah baru dalam ilmu komunikasi.
Menurutnya, masyarakat kini memasuki fase ketika interaksi tidak lagi hanya terjadi antarmanusia, tetapi juga melibatkan data, algoritma, kecerdasan buatan, dan perangkat digital.
Selain itu, sejumlah akademisi juga mengingatkan bahwa penggunaan AI secara berlebihan berpotensi menurunkan kebiasaan berpikir kritis jika manusia mulai menyerahkan terlalu banyak keputusan kepada sistem otomatis.
Keseimbangan Jadi Kunci Penggunaan AI
Para peneliti menilai solusi terbaik bukan menjauhi teknologi, melainkan menempatkan AI sebagai alat bantu.
Pengguna tetap perlu mempertahankan kemampuan berpikir, mengambil keputusan, dan memahami konsekuensi penggunaan teknologi dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan pendekatan tersebut, AI smartwatch dapat membantu meningkatkan kualitas hidup tanpa mengurangi peran manusia sebagai pengambil keputusan utama.








