trendsberita.com – Isu mengenai Hantavirus kembali menjadi sorotan publik setelah sejumlah laporan kesehatan mulai membahas potensi penyebaran penyakit ini. Namun, di tengah meningkatnya kekhawatiran masyarakat, dokter sekaligus influencer kesehatan dr. Tirta Mandira Hudhi meminta publik untuk tetap tenang dan tidak bereaksi berlebihan.
Ia menegaskan bahwa masyarakat bisa mencegah risiko infeksi dengan langkah sederhana yang justru sering diabaikan dalam kehidupan sehari-hari.
dr. Tirta Minta Publik Tetap Tenang
dr. Tirta menanggapi ramainya pemberitaan Hantavirus dengan pendekatan yang lebih rasional. Ia menilai masyarakat tidak perlu panik selama memahami cara penularan dan pencegahannya.
Melalui pernyataannya, ia menekankan bahwa kebersihan menjadi faktor utama dalam menghindari risiko infeksi.
Ia juga menyebut bahwa Hantavirus umumnya berkaitan dengan lingkungan yang kurang higienis, terutama yang berhubungan dengan keberadaan tikus.
“Tidak perlu panik soal Hantavirus, yang penting kita tidak jorok dan menjaga kebersihan lingkungan,” ujar dr. Tirta dalam unggahan media sosialnya.
Hantavirus Tidak Menular Antar Manusia Secara Umum
Salah satu hal penting yang perlu dipahami publik adalah cara penularan Hantavirus. Virus ini tidak menyebar seperti influenza atau COVID-19 yang menular antar manusia secara cepat.
Sebaliknya, Hantavirus menyebar melalui kontak dengan tikus atau lingkungan yang terkontaminasi urin, feses, atau air liur tikus.
Selain itu, partikel debu dari area yang terkontaminasi juga dapat membawa virus masuk ke saluran pernapasan manusia.
Karena itu, lingkungan yang kotor dan tidak terawat menjadi faktor risiko utama penyebaran penyakit ini.
Cara Sederhana Mencegah Hantavirus
dr. Tirta menjelaskan bahwa pencegahan Hantavirus sebenarnya tidak rumit. Justru langkahnya sangat dekat dengan kebiasaan hidup sehari-hari.
Beberapa cara pencegahan yang ia soroti antara lain:
- Menjaga kebersihan rumah secara rutin
- Menghindari penumpukan sampah di dalam dan sekitar rumah
- Menutup celah yang bisa menjadi jalur masuk tikus
- Menggunakan alat pelindung saat membersihkan area kotor
- Tidak menyentuh kotoran hewan pengerat secara langsung
Selain itu, ia menegaskan bahwa kebiasaan hidup bersih dan sehat (PHBS) menjadi kunci utama untuk menekan risiko infeksi.
Langkah sederhana ini, menurutnya, jauh lebih efektif dibanding rasa panik yang berlebihan.
Kemenkes dan Ahli Ingatkan Risiko Tetap Ada
Di sisi lain, sejumlah lembaga kesehatan tetap mengingatkan bahwa Hantavirus bukan isu yang bisa diabaikan.
Kementerian Kesehatan mencatat bahwa virus ini termasuk zoonosis emerging, yaitu penyakit yang muncul kembali dan berpotensi berkembang di lingkungan tertentu.
Selain itu, penelitian menunjukkan bahwa virus ini sudah lama beredar di Indonesia, terutama melalui tikus rumah yang hidup dekat dengan manusia.
Kondisi ini membuat risiko paparan tetap ada, terutama di daerah dengan sanitasi buruk.
Gejala Hantavirus yang Perlu Diwaspadai
Meskipun jarang terjadi penularan langsung antar manusia, masyarakat tetap perlu mengenali gejalanya.
Beberapa gejala awal yang sering muncul antara lain:
- Demam tinggi mendadak
- Nyeri otot
- Kelelahan ekstrem
- Mual dan pusing
- Sesak napas pada kasus berat
Jika tidak ditangani dengan cepat, infeksi dapat berkembang menjadi gangguan pernapasan atau gangguan ginjal yang serius.
Mengapa Kasus Ini Kembali Viral?
Isu Hantavirus kembali ramai karena meningkatnya perhatian publik terhadap penyakit zoonosis. Selain itu, media sosial juga mempercepat penyebaran informasi, baik yang akurat maupun yang menimbulkan kekhawatiran berlebihan.
Namun, para ahli menilai bahwa edukasi menjadi langkah paling penting agar masyarakat tidak salah memahami risiko sebenarnya.









