JAKARTA, trendsberita.com – Sebuah kasus medis langka kembali menarik perhatian publik setelah hasil rontgen seorang wanita asal Taiwan viral di media sosial. Wanita tersebut diketahui mengalami kesulitan buang air besar (BAB) selama sekitar 23 tahun. Kondisi yang berlangsung sejak kecil itu akhirnya memicu perubahan ekstrem pada usus besarnya hingga membuat tim dokter terkejut saat melihat hasil pemeriksaan.
Kisah tersebut pertama kali muncul di platform media sosial Taiwan, Dcard, pada 2021. Meski sudah beberapa tahun berlalu, unggahan itu kembali viral pada 2026 setelah banyak pengguna media sosial membagikannya ulang dan membahas kondisi kesehatan yang dialami wanita tersebut.
Banyak netizen mengaku merinding ketika melihat foto rontgen yang memperlihatkan posisi usus yang tidak lagi berada pada lokasi normal akibat sembelit kronis yang berlangsung sangat lama.
Berjuang Melawan Sembelit Sejak Kecil
Wanita yang identitasnya dirahasiakan itu mengaku telah menghadapi masalah konstipasi sejak masa kanak-kanak. Setiap kali ingin buang air besar, ia harus menghabiskan waktu antara satu hingga dua jam di toilet. Aktivitas yang bagi sebagian orang terlihat sederhana justru menjadi perjuangan berat yang terus berulang selama bertahun-tahun.
Ia tidak tinggal diam menghadapi masalah tersebut. Berbagai cara alami sudah dicoba untuk membantu melancarkan pencernaan.
Wanita itu rutin minum air putih, memperbanyak konsumsi sayur, memilih makanan bertekstur lunak, serta mengonsumsi buah dalam jumlah besar. Namun upaya tersebut tidak memberikan hasil yang signifikan.
“Saya bahkan pernah menghabiskan tujuh buah pepaya besar dan dua buah naga besar dalam satu minggu. Hasilnya tetap tidak bisa buang air besar,” tulis wanita tersebut dalam unggahannya.
Pemeriksaan Rontgen Mengungkap Kondisi Mengejutkan
Setelah bertahun-tahun mengalami gangguan pencernaan, wanita tersebut akhirnya memutuskan menjalani pemeriksaan medis secara menyeluruh di rumah sakit.
Keputusan itu membawa temuan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Tim dokter menemukan perubahan besar pada struktur usus besarnya saat memeriksa hasil rontgen perut.
Dokter melihat usus besar atau kolon pasien mengalami pemanjangan yang sangat ekstrem. Organ tersebut tidak lagi berada sepenuhnya di posisi normal dan terlihat menjulur ke bagian atas rongga perut hingga mendekati area dada.
Kondisi itu terjadi karena penumpukan feses yang berlangsung selama bertahun-tahun. Usus terus meregang untuk menampung sisa pencernaan sehingga bentuk dan posisinya berubah secara bertahap.
Penumpukan Feses Memicu Perubahan Usus
Dokter juga menemukan bagian akhir usus besar kehilangan sebagian kerutan alaminya.
Peregangan yang berlangsung terus-menerus membuat struktur usus berubah. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa konstipasi kronis dapat menimbulkan dampak serius apabila seseorang tidak mendapatkan penanganan yang tepat dalam jangka panjang.
Meski kondisi usus pasien tergolong ekstrem, tim dokter menyampaikan bahwa organ tersebut belum mengganggu fungsi jantung maupun organ vital lainnya. Kabar tersebut menjadi sedikit kelegaan bagi pasien yang saat itu merasa sangat khawatir dengan hasil pemeriksaannya.
Dokter Menyarankan Operasi Besar
Setelah mengevaluasi kondisi pasien, tim medis menyimpulkan bahwa tindakan operasi menjadi solusi yang paling memungkinkan untuk mengatasi masalah tersebut secara permanen.
Dokter menyarankan prosedur colectomy atau pengangkatan usus besar sebagai langkah penanganan utama. Mereka menilai operasi tersebut dapat membantu mengatasi gangguan yang sudah berlangsung selama puluhan tahun.
Namun pasien mengaku takut menjalani tindakan tersebut. Ia khawatir terhadap risiko komplikasi yang mungkin muncul setelah operasi berlangsung.
Perasaan cemas itu membuatnya sempat bimbang dalam mengambil keputusan mengenai langkah pengobatan berikutnya.
Mengapa Sembelit Tidak Boleh Diabaikan?
Kasus yang dialami wanita Taiwan tersebut kembali mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan sistem pencernaan.
Konstipasi atau sembelit memang umum terjadi, tetapi kondisi yang berlangsung dalam waktu lama dapat memicu berbagai komplikasi kesehatan. Penumpukan feses yang terus terjadi berisiko menyebabkan peregangan usus, gangguan buang air besar kronis, hingga penyumbatan saluran pencernaan.
Dokter biasanya menyarankan masyarakat untuk memperbanyak konsumsi serat, memenuhi kebutuhan cairan, rutin berolahraga, serta tidak menunda keinginan buang air besar. Kebiasaan sederhana tersebut dapat membantu menjaga pergerakan usus tetap normal.
Kapan Harus Memeriksakan Diri?
Seseorang perlu memperhatikan kondisi tubuh apabila mengalami sembelit yang berlangsung terus-menerus atau berulang dalam jangka panjang.
Keluhan seperti BAB kurang dari tiga kali dalam seminggu, feses keras, perut terasa penuh, nyeri saat BAB, atau rasa tidak tuntas setelah buang air besar sebaiknya tidak diabaikan. Konsultasi dengan tenaga medis dapat membantu menemukan penyebab dan penanganan yang sesuai.
Kasus viral dari Taiwan menunjukkan bahwa masalah pencernaan yang tampak sederhana dapat berkembang menjadi kondisi serius apabila berlangsung selama bertahun-tahun. Karena itu, masyarakat perlu lebih memperhatikan kesehatan usus dan segera mencari bantuan medis ketika gejala sembelit mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.









