trendsberita — Konsumsi minuman manis di Indonesia menjadi sorotan karena tingginya kandungan gula tersembunyi atau hidden sugar yang sering tidak disadari masyarakat.
Fenomena ini dinilai membuat banyak orang rentan mengalami gangguan kesehatan, termasuk diabetes. Pasalnya, gula dalam minuman kerap tidak terasa berlebihan, tetapi sebenarnya tinggi jika dikonsumsi rutin.
Minuman manis seperti teh kemasan, kopi susu, hingga minuman rasa susu sering dianggap ringan dan aman. Namun, kandungan gula di dalamnya bisa sangat tinggi dan menjadi sumber kalori utama.
Menurut pakar gizi, bentuk cair membuat gula lebih mudah dikonsumsi dalam jumlah besar tanpa memberikan rasa kenyang. Akibatnya, asupan kalori meningkat tanpa disadari.
Selain itu, banyak produk minuman menggunakan klaim seperti “mengandung susu” atau “bernutrisi”. Klaim ini sering menyesatkan karena membuat konsumen mengira minuman tersebut sehat.
Padahal, komposisi utama produk bisa saja didominasi gula. Dalam aturan pelabelan, bahan yang ditulis di urutan awal menunjukkan jumlah paling banyak dalam produk.
Artinya, jika gula berada di posisi awal, maka minuman tersebut sebenarnya lebih banyak mengandung gula dibanding bahan lainnya.
Kondisi ini menjadi salah satu penyebab meningkatnya risiko penyakit metabolik. Konsumsi gula berlebih diketahui berkaitan dengan obesitas, diabetes tipe 2, hingga gangguan jantung.
Organisasi kesehatan dunia bahkan merekomendasikan agar asupan gula dibatasi maksimal 10 persen dari total energi harian. Jika berlebihan, risiko penyakit kronis akan meningkat.
Masalahnya, banyak orang tidak menyadari bahwa gula juga tersembunyi dalam berbagai minuman yang dikonsumsi setiap hari. Inilah yang disebut hidden sugar.
Untuk menghindari jebakan tersebut, masyarakat diimbau lebih cermat membaca label kemasan. Tidak hanya melihat klaim depan, tetapi juga memperhatikan komposisi dan nilai gizi.
Selain itu, membatasi konsumsi minuman manis menjadi langkah penting. Air putih tetap menjadi pilihan terbaik untuk memenuhi kebutuhan cairan harian.
Pakar juga menyarankan agar konsumsi minuman manis tidak dijadikan kebiasaan harian. Dengan mengontrol asupan gula, risiko diabetes dan penyakit lainnya dapat ditekan.









