JAKARTA, trendsberita.com – Sementara itu, DPR RI menilai pernyataan Presiden Prabowo Subianto soal dolar Amerika Serikat (AS) bertujuan menenangkan masyarakat. DPR melihat pernyataan itu sebagai upaya menjaga psikologis publik di tengah tekanan ekonomi global.
Selain itu, isu pelemahan rupiah terhadap dolar AS memicu kekhawatiran sebagian masyarakat. Namun, DPR menilai pemerintah ingin meredam kepanikan publik melalui komunikasi politik yang lebih sederhana.
DPR Anggap Pernyataan Prabowo Bersifat Psikologis
Di sisi lain, Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun menilai pernyataan Presiden tidak perlu dipahami secara harfiah. Ia menegaskan bahwa pesan tersebut lebih menekankan stabilitas psikologis masyarakat.
Kemudian, ia menjelaskan bahwa pemerintah ingin mencegah kepanikan akibat fluktuasi nilai tukar rupiah.
“Pernyataan itu adalah upaya menenangkan masyarakat,” ujar Misbakhun.
DPR Minta Publik Tidak Salah Tafsir
Sementara itu, DPR meminta publik tidak menafsirkan pernyataan Presiden secara teknis ekonomi. Menurut DPR, pesan tersebut lebih bersifat komunikasi publik, bukan analisis ekonomi mendalam.
Selain itu, DPR menilai perdebatan yang terlalu teknis justru dapat mengaburkan tujuan utama pernyataan tersebut.
Dengan demikian, DPR menilai konteks komunikasi perlu dipahami secara utuh agar tidak menimbulkan salah persepsi.
Pemerintah Fokus Jaga Stabilitas Rupiah
Di sisi lain, DPR tetap meminta Bank Indonesia menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. DPR menilai kebijakan moneter perlu berjalan secara terukur untuk meredam tekanan pasar.
Kemudian, DPR juga mendorong langkah operasi moneter agar dampaknya langsung terasa pada stabilitas kurs.
Selain itu, DPR menargetkan rupiah tetap bergerak sesuai asumsi makro APBN 2026.
DPR Tekankan Stabilitas Ekonomi Nasional
Sementara itu, DPR menilai pemerintah masih memiliki ruang fiskal dan moneter yang cukup kuat. Kondisi ini membuat ekonomi Indonesia lebih siap menghadapi gejolak global.
Selain itu, DPR menilai komunikasi publik pemerintah penting untuk menjaga kepercayaan pasar dan masyarakat.
Dengan demikian, stabilitas ekonomi tidak hanya bergantung pada kebijakan, tetapi juga persepsi publik.
Gejolak Rupiah Picu Perhatian Publik
Di sisi lain, pelemahan rupiah terhadap dolar AS kembali menjadi sorotan publik. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran terhadap dampak harga barang dan biaya hidup.
Namun demikian, DPR menilai situasi saat ini berbeda dengan krisis ekonomi masa lalu karena fundamental ekonomi masih lebih kuat.









