Harga Minyak Anjlok Usai Trump Klaim Negosiasi Iran Masuk Tahap Akhir

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 21 Mei 2026 - 16:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: REUTERS/Dado Ruvic

Foto: REUTERS/Dado Ruvic

Jakarta, trendsberita.comHarga minyak dunia jatuh tajam pada perdagangan terbaru setelah pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengguncang pasar energi global. Trump menyebut negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran sudah memasuki tahap akhir dan membuka harapan meredanya ketegangan di Timur Tengah.

Pernyataan itu langsung memicu aksi jual di pasar minyak. Investor bereaksi cepat karena mereka menilai potensi kesepakatan damai bisa mengurangi risiko gangguan pasokan dari kawasan Teluk, yang selama ini menopang harga minyak di level tinggi.

Berdasarkan data perdagangan, harga minyak mentah Brent turun lebih dari 5% dan ditutup di level sekitar US$105,02 per barel. Sementara West Texas Intermediate (WTI) ikut melemah tajam ke posisi US$98,26 per barel.

Pernyataan Trump Dorong Sentimen Negatif di Pasar

Tekanan utama datang dari pernyataan Donald Trump yang menyebut pembicaraan dengan Iran berada di “final stages”. Ia juga beberapa kali mengindikasikan bahwa kesepakatan damai bisa tercapai dalam waktu dekat.

Pasar langsung membaca sinyal itu sebagai kemungkinan penurunan risiko geopolitik. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar mengurangi posisi beli di minyak dan mulai melakukan aksi ambil untung.

Namun di sisi lain, Trump tetap mengirim pesan campuran. Ia menyebut kesepakatan masih belum final dan memperingatkan kemungkinan tindakan militer jika negosiasi gagal. Situasi ini membuat pasar tetap berada dalam ketidakpastian tinggi.

Baca Juga :  TNI AD: Kecelakaan Truk di Kalideres Tak Ada Unsur Kesengajaan

Pasar Bereaksi Cepat, Harga Minyak Terkoreksi Tajam

Reaksi pasar berlangsung cepat begitu pernyataan Trump muncul. Dalam hitungan jam, harga minyak langsung turun lebih dari 5% dalam satu sesi perdagangan.

Investor menilai potensi kesepakatan AS–Iran bisa membuka kembali jalur distribusi minyak global, termasuk Selat Hormuz yang menjadi jalur vital ekspor energi dunia.

Sebelumnya, ketegangan di kawasan tersebut sempat mendorong harga minyak naik tajam karena kekhawatiran gangguan pasokan. Namun sentimen itu berbalik ketika peluang diplomasi kembali menguat.

Data pasar menunjukkan penurunan juga terjadi meskipun laporan stok minyak AS sebelumnya justru menunjukkan penurunan besar. Kondisi ini menegaskan bahwa faktor geopolitik masih menjadi penggerak utama harga minyak saat ini.

Fokus Pasar Beralih ke Negosiasi AS–Iran

Pelaku pasar kini menaruh perhatian penuh pada perkembangan negosiasi antara Washington dan Teheran. Mereka menilai setiap pernyataan dari pejabat Amerika Serikat bisa langsung mempengaruhi arah harga minyak.

Trump sebelumnya beberapa kali mengubah nada komunikasinya, dari ancaman militer hingga sinyal kesepakatan. Pola ini membuat pasar sulit membaca arah kebijakan secara konsisten.

Dalam kondisi seperti ini, investor cenderung mengambil posisi defensif. Mereka mengurangi eksposur terhadap aset berisiko dan menunggu kepastian dari hasil negosiasi.

Selat Hormuz Jadi Titik Kritis Pasokan Energi

Selat Hormuz kembali menjadi sorotan utama dalam dinamika pasar minyak global. Jalur ini mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dunia, sehingga setiap gangguan langsung berdampak pada harga global.

Baca Juga :  ChatGPT Dikabarkan Bisa Bikin PowerPoint Lewat Suara di Masa Depan

Beberapa analis menilai ketidakpastian di kawasan ini tetap tinggi meskipun ada sinyal damai. Mereka menyebut gangguan pasokan bisa mencapai jutaan barel per hari jika konflik kembali memanas.

Di sisi lain, jika kesepakatan benar-benar tercapai, pasar bisa melihat koreksi harga yang lebih dalam karena suplai minyak kembali normal.

Analis: Pasar Masih Sangat Sensitif

Analis komoditas menilai pasar minyak saat ini sangat sensitif terhadap isu geopolitik. Satu pernyataan dari pejabat tinggi bisa langsung mengubah arah harga dalam hitungan jam.

Beberapa lembaga riset bahkan memperingatkan skenario ekstrem. Jika konflik kembali memburuk dan jalur distribusi terganggu, harga minyak bisa melonjak signifikan. Namun jika kesepakatan damai tercapai, harga bisa turun lebih jauh dari level saat ini.

Investor juga mencermati data permintaan global yang masih fluktuatif akibat kondisi ekonomi dunia yang belum stabil.

Tekanan Tambahan dari Sentimen Global

Selain faktor geopolitik, pasar minyak juga menghadapi tekanan dari kondisi ekonomi global. Suku bunga tinggi di beberapa negara besar menahan pertumbuhan permintaan energi.

Di saat yang sama, peningkatan produksi dari beberapa negara produsen menambah tekanan pada harga.

Kombinasi faktor ini membuat harga minyak bergerak dalam pola yang sangat volatil, dengan perubahan arah yang cepat tergantung pada berita terbaru.

Follow WhatsApp Channel trendsberita.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Lenovo Hadirkan Perangkat Edisi FIFA World Cup 2026 di Indonesia
Promo Spesial Gajian Indomaret hingga 10 Juni 2026, Diskon Produk Harian Sampai 50 Persen
Update Harga Oppo dan Realme Mei 2026, Mulai Rp1 Jutaan hingga Flagship Premium
Dolar AS Hampir Rp17.800, Purbaya Nilai Pelemahan Rupiah Tak Masuk Akal
RI Makin Kurangi Ketergantungan Dolar AS, Transaksi Mata Uang Lokal Tembus Rp 400 Triliun
ChatGPT Dikabarkan Bisa Bikin PowerPoint Lewat Suara di Masa Depan
Dinas Pendidikan Kerinci Latih ASN Hadapi Administrasi Digital, Ini Langkah Percepatan Transformasi
ANTM Tersingkir dari MSCI Small Cap Index, Antam Tegaskan Fundamental Bisnis Tetap Solid
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 30 Mei 2026 - 22:00 WIB

Promo Spesial Gajian Indomaret hingga 10 Juni 2026, Diskon Produk Harian Sampai 50 Persen

Sabtu, 30 Mei 2026 - 10:00 WIB

Update Harga Oppo dan Realme Mei 2026, Mulai Rp1 Jutaan hingga Flagship Premium

Rabu, 27 Mei 2026 - 23:00 WIB

Dolar AS Hampir Rp17.800, Purbaya Nilai Pelemahan Rupiah Tak Masuk Akal

Minggu, 24 Mei 2026 - 20:00 WIB

RI Makin Kurangi Ketergantungan Dolar AS, Transaksi Mata Uang Lokal Tembus Rp 400 Triliun

Jumat, 22 Mei 2026 - 18:00 WIB

ChatGPT Dikabarkan Bisa Bikin PowerPoint Lewat Suara di Masa Depan

Berita Terbaru

(NurPhoto via Getty Images/NurPhoto)

Internasional

Diserang Rudal Iran, Pangkalan Udara Utama Israel Mengalami Kerusakan

Kamis, 11 Jun 2026 - 13:00 WIB