Jakarta, trendsberita.com – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan dan hampir menyentuh level Rp17.800 per dolar Amerika Serikat (AS). Pada penutupan perdagangan sebelumnya, dolar AS tercatat berada di sekitar Rp17.795 atau menguat sekitar 0,29%.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai pelemahan tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental ekonomi domestik.
Purbaya Nilai Kondisi Rupiah Tidak Sejalan dengan Fundamental
Menurut Purbaya, pelemahan rupiah saat ini terjadi ketika sejumlah indikator ekonomi masih berada dalam kondisi yang relatif baik.
Ia menyampaikan bahwa secara historis tekanan besar pada nilai tukar biasanya muncul saat terdapat gangguan pada faktor fundamental ekonomi.
Dalam keterangannya kepada media, Purbaya menyebut kondisi saat ini “tidak masuk akal” jika hanya dilihat dari kondisi ekonomi domestik.
Pemerintah Tidak Ulang Simulasi APBN
Meski rupiah melemah, pemerintah belum berencana melakukan penghitungan ulang terhadap ketahanan APBN.
Purbaya menjelaskan pemerintah sebelumnya sudah memasukkan berbagai skenario risiko dalam simulasi fiskal, termasuk asumsi tekanan eksternal dan perubahan harga energi global.
Karena itu, pemerintah menilai APBN saat ini masih berada dalam jalur yang dapat dikelola.
Pemerintah Jaga Pasar Obligasi dan Arus Modal
Selain menjaga fiskal, pemerintah juga berupaya menjaga stabilitas pasar keuangan.
Purbaya menjelaskan bahwa pengendalian pasar obligasi menjadi salah satu fokus karena kondisi yield yang stabil dapat membantu menjaga minat investor.
Menurutnya, pemerintah mulai melihat masuknya kembali aliran modal asing ke pasar obligasi Indonesia.
Apa Arti Pelemahan Rupiah bagi Masyarakat?
Pelemahan rupiah umumnya dapat memengaruhi beberapa sektor, antara lain:
- harga barang impor
- biaya perjalanan luar negeri
- biaya bahan baku industri
- tekanan inflasi pada beberapa komoditas
Namun, dampaknya tidak selalu muncul secara langsung karena juga bergantung pada kebijakan pemerintah dan kondisi pasar.








