trendsberita.com – Xiaomi menghentikan pengembangan ponsel ultra tipis yang sebelumnya mereka siapkan untuk bersaing dengan iPhone Air. Presiden Xiaomi, Lu Weibing, menjelaskan keputusan itu secara terbuka setelah timnya melakukan evaluasi menyeluruh terhadap prototipe yang hampir masuk produksi massal.
Lu mengatakan timnya tidak ingin memaksakan desain yang justru mengorbankan pengalaman pengguna.
“Kami sudah mendekati tahap produksi, tetapi kami memilih berhenti karena beberapa pertimbangan teknis penting,” ujar Lu Weibing dalam keterangan yang dikutip ANTARA.
Keputusan ini langsung mengubah arah strategi Xiaomi pada lini flagship ke depan.
Tim Xiaomi Temukan Banyak Masalah pada Desain Super Tipis
Insinyur Xiaomi menemukan banyak keterbatasan saat mereka menguji desain ultra tipis tersebut. Mereka melihat ruang internal perangkat menjadi terlalu sempit untuk menampung komponen penting.
Tim pengembang mencatat bahwa baterai berkapasitas besar tidak bisa masuk tanpa mengorbankan bentuk perangkat. Selain itu, sistem pendinginan juga tidak bekerja optimal karena ruang sirkulasi panas terlalu terbatas.
Lu menegaskan bahwa timnya tidak mau mengorbankan performa hanya demi desain.
“Kami harus memilih antara desain ekstrem atau pengalaman penggunaan yang stabil. Kami memilih yang kedua,” kata Lu.
Xiaomi Lihat Perubahan Kebutuhan Pengguna
Xiaomi kemudian mempelajari perilaku pengguna smartphone secara global. Mereka menemukan bahwa konsumen kini lebih fokus pada daya tahan baterai dan performa stabil dibanding desain tipis.
Tim riset Xiaomi mencatat banyak pengguna aktif menginginkan ponsel yang mampu bertahan seharian penuh tanpa pengisian ulang.
Lu menjelaskan bahwa perusahaan menyesuaikan keputusan berdasarkan kebutuhan nyata, bukan sekadar tren desain.
Prototipe Sudah Dekati Produksi Massal
Xiaomi sebenarnya sudah membawa proyek ini ke tahap lanjut. Tim internal bahkan sudah menyiapkan prototipe yang sangat mendekati desain final.
Namun saat mereka melakukan pengujian, beberapa masalah muncul. Chipset menghasilkan panas tinggi, sementara ruang kecil membuat sistem pendinginan tidak mampu menurunkan suhu secara efektif.
Tim teknis juga menemukan baterai kecil tidak mampu mendukung penggunaan berat dalam durasi panjang. Kondisi ini membuat performa perangkat tidak stabil saat diuji dalam skenario nyata.
Setelah melihat hasil tersebut, tim pengembang akhirnya menyarankan untuk menghentikan proyek.
Tren HP Ultra Tipis Mulai Kehilangan Daya Tarik
Xiaomi bukan satu-satunya perusahaan yang menghadapi tantangan ini. Beberapa produsen smartphone lain juga mencoba konsep serupa, tetapi mereka menghadapi masalah yang hampir sama.
Perusahaan-perusahaan tersebut kesulitan menjaga keseimbangan antara desain tipis dan performa perangkat.
Industri smartphone kini mulai bergerak menjauh dari desain ekstrem dan lebih fokus pada fungsi nyata yang dirasakan pengguna.
Xiaomi Alihkan Fokus ke Seri “Max”
Xiaomi kemudian mengalihkan fokus pengembangan ke lini “Max”. Lu Weibing menjelaskan bahwa konsep Max tidak hanya berarti ukuran besar, tetapi juga peningkatan menyeluruh pada performa.
Tim Xiaomi mengembangkan perangkat Max dengan baterai lebih besar, kamera lebih kuat, dan sistem pendinginan yang lebih efisien.
Lu menegaskan bahwa perusahaan ingin menghadirkan perangkat yang lebih siap untuk penggunaan berat sehari-hari.
Strategi Baru Xiaomi Hadapi Persaingan Global
Xiaomi mengubah strategi agar tetap kompetitif di pasar smartphone global. Mereka kini lebih fokus pada pengalaman pengguna dibanding mengejar desain ekstrem.
Tim pengembang memperkuat aspek yang paling sering pengguna rasakan, seperti:
- daya tahan baterai yang lebih lama
- performa stabil saat multitasking
- kualitas kamera yang lebih konsisten
- sistem pendinginan yang lebih baik
Pendekatan ini membantu Xiaomi memperkuat posisi di segmen flagship.









