Waspada Spyware Morpheus, Update Android Palsu Bisa Bobol WhatsApp Tanpa Disadari

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 5 Mei 2026 - 11:57 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi(The Inquirer)

Ilustrasi(The Inquirer)

trendsberita.com – Spyware Morpheus kini menjadi ancaman serius bagi pengguna Android. Malware ini tidak menyerang secara terang-terangan, melainkan menyusup lewat cara yang terlihat biasa. Pelaku memanfaatkan celah kepercayaan pengguna terhadap sistem perangkat mereka.

Banyak korban mengira mereka hanya menjalankan pembaruan sistem. Padahal, mereka justru membuka akses bagi peretas untuk masuk ke dalam perangkat. Situasi ini membuat Morpheus jauh lebih berbahaya dibanding malware biasa.

Laporan terbaru dari peneliti keamanan siber menunjukkan bahwa Morpheus secara khusus menargetkan aplikasi komunikasi seperti WhatsApp. Serangan ini tidak hanya mencuri data, tetapi juga memungkinkan pelaku memantau aktivitas korban secara langsung.

Pelaku Gunakan Modus Update Palsu untuk Menjebak Korban

Pelaku merancang serangan Morpheus dengan strategi yang rapi. Mereka tidak mengandalkan teknik rumit, tetapi justru memanfaatkan kebiasaan pengguna.

Serangan biasanya dimulai saat koneksi internet korban tiba-tiba bermasalah. Setelah itu, korban menerima pesan SMS yang terlihat resmi. Pesan tersebut mengarahkan korban untuk mengunduh pembaruan sistem.

Korban yang tidak curiga langsung mengklik tautan tersebut. Mereka kemudian menginstal aplikasi yang tampak seperti update Android. Padahal, aplikasi itu membawa spyware Morpheus ke dalam perangkat.

Begitu aplikasi terpasang, sistem langsung meminta izin aksesibilitas. Banyak pengguna memberikan izin tersebut tanpa berpikir panjang. Di sinilah Morpheus mulai menjalankan aksinya.

Morpheus Ambil Alih Layar dan Akses Data Korban

Setelah mendapatkan izin, Morpheus langsung mengontrol berbagai fungsi penting di perangkat. Spyware ini mampu membaca isi layar, merekam aktivitas, dan mengambil data tanpa sepengetahuan pengguna.

Selain itu, Morpheus juga dapat mengakses aplikasi lain. Malware ini tidak hanya mengintai, tetapi juga berinteraksi dengan sistem secara aktif.

Kemampuan ini membuat pelaku bisa mengumpulkan informasi sensitif dengan cepat. Mereka bahkan dapat memanfaatkan data tersebut untuk kejahatan lanjutan seperti penipuan atau peretasan akun.

Baca Juga :  Bocoran Fitur Terbaru One UI 9 di Android 16: Samsung Mulai Uji Coba Sistem Baru di 2026

Menyamar Sebagai WhatsApp untuk Mengelabui Korban

Morpheus menggunakan trik lanjutan untuk memperkuat serangannya. Malware ini menampilkan antarmuka palsu yang menyerupai WhatsApp.

Korban yang membuka aplikasi akan melihat tampilan yang sangat mirip dengan versi asli. Mereka kemudian diminta memasukkan PIN atau melakukan verifikasi biometrik.

Saat korban memasukkan data tersebut, Morpheus langsung mencurinya. Pelaku kemudian menggunakan data itu untuk menghubungkan akun WhatsApp korban ke perangkat lain.

Setelah berhasil, pelaku bisa membaca seluruh percakapan secara real-time. Mereka juga dapat memantau aktivitas korban tanpa meninggalkan jejak yang mudah terlihat.

Seorang analis keamanan siber menjelaskan bahwa teknik ini sangat efektif.
“Pelaku memanfaatkan tampilan yang familiar agar korban tidak curiga,” ujarnya.

Digunakan untuk Pengawasan, Tapi Berisiko Disalahgunakan

Peneliti menemukan bahwa Morpheus memiliki keterkaitan dengan teknologi penyadapan legal. Beberapa pihak awalnya mengembangkan sistem ini untuk kepentingan penegakan hukum.

Namun, pihak tidak bertanggung jawab kini memanfaatkan teknologi tersebut untuk tujuan ilegal. Hal ini meningkatkan risiko penyalahgunaan secara signifikan.

Pakar keamanan siber Alfons Tanujaya menjelaskan bahwa spyware seperti Morpheus sudah beroperasi di berbagai negara.
“Morpheus termasuk spyware Android yang biasa digunakan oleh lembaga intelijen,” ujarnya.

Pernyataan ini menunjukkan bahwa ancaman Morpheus tidak bisa dianggap remeh.

Morpheus Lebih Sederhana dari Pegasus, Tapi Tetap Berbahaya

Jika dibandingkan dengan spyware seperti Pegasus, Morpheus menggunakan pendekatan berbeda. Pegasus bisa menyerang tanpa interaksi pengguna.

Sebaliknya, Morpheus membutuhkan tindakan dari korban. Pelaku harus meyakinkan korban agar menginstal aplikasi berbahaya.

Namun, metode ini justru lebih efektif untuk pengguna awam. Banyak orang masih mudah percaya pada pesan yang terlihat resmi.

Baca Juga :  Pencipta Linux Kewalahan Hadapi Laporan Bug AI, Linus Torvalds Soroti Banjir Duplikasi

Karena itu, Morpheus tetap menjadi ancaman besar meskipun teknologinya tidak sekompleks spyware lain.

Android Jadi Target Karena Sistemnya Lebih Terbuka

Android memiliki sistem yang lebih fleksibel dibanding platform lain. Pengguna bisa menginstal aplikasi dari berbagai sumber.

Fitur ini memang memberikan kebebasan. Namun, fitur yang sama juga membuka peluang bagi malware untuk masuk.

Banyak pengguna mengaktifkan instalasi dari sumber tidak dikenal tanpa memahami risikonya. Kebiasaan ini memudahkan Morpheus menyusup ke perangkat.

Cara Mencegah Spyware Morpheus Masuk ke Perangkat

Pengguna dapat melindungi diri dengan langkah sederhana namun efektif. Kedisiplinan menjadi kunci utama dalam menjaga keamanan digital.

Pertama, instal aplikasi hanya dari Google Play Store. Hindari mengunduh aplikasi dari tautan yang tidak jelas.

Kedua, abaikan pesan yang menawarkan pembaruan sistem melalui SMS atau chat. Sistem Android tidak pernah mengirim update lewat cara tersebut.

Ketiga, nonaktifkan fitur instalasi dari sumber tidak dikenal. Langkah ini akan menutup celah bagi malware.

Keempat, aktifkan verifikasi dua langkah di WhatsApp. Fitur ini memberikan perlindungan tambahan pada akun.

Kelima, periksa perangkat yang terhubung ke WhatsApp secara berkala. Segera keluarkan perangkat yang tidak dikenal.

Kesadaran Digital Jadi Pertahanan Utama

Morpheus menunjukkan bahwa serangan siber kini semakin cerdas. Pelaku tidak hanya mengandalkan teknologi, tetapi juga memanfaatkan perilaku manusia.

Karena itu, pengguna harus meningkatkan kewaspadaan. Jangan mudah percaya pada pesan atau tautan yang tidak jelas.

Keamanan digital bukan hanya tanggung jawab sistem, tetapi juga pengguna. Dengan sikap hati-hati, pengguna bisa mencegah serangan sejak awal.

Follow WhatsApp Channel trendsberita.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

September 2026 diprediksi menjadi bulan peluncuran smartphone flagship terbesar
3 Sensor Kamera HP Terbaik 2026 untuk Foto Profesional
Harga Samsung Galaxy Watch Ultra 2 dan Watch9 Resmi di RI
Trik Preorder Galaxy Z Fold 8 Ultra Mulai Rp1,1 Juta
Logitech Mobi Fold Resmi Meluncur, Mouse Lipat yang Dirancang untuk Kerja di Mana Saja
iOS 27 Hadir dengan AI Lebih Canggih, Fitur Terbaik Hanya Tersedia di iPhone 17 Pro
iPhone SOS Only Muncul? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya
Misi MAVEN Mars Berakhir, NASA Kehilangan Kontak Secara Misterius
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 28 Juli 2026 - 20:42 WIB

September 2026 diprediksi menjadi bulan peluncuran smartphone flagship terbesar

Jumat, 24 Juli 2026 - 13:00 WIB

3 Sensor Kamera HP Terbaik 2026 untuk Foto Profesional

Jumat, 24 Juli 2026 - 12:00 WIB

Harga Samsung Galaxy Watch Ultra 2 dan Watch9 Resmi di RI

Jumat, 24 Juli 2026 - 11:08 WIB

Trik Preorder Galaxy Z Fold 8 Ultra Mulai Rp1,1 Juta

Kamis, 11 Juni 2026 - 10:00 WIB

Logitech Mobi Fold Resmi Meluncur, Mouse Lipat yang Dirancang untuk Kerja di Mana Saja

Berita Terbaru

Oplus_131072

Daerah

Misteri Batu Gong Purba yang Bisa Berdenting Seperti Logam

Selasa, 28 Jul 2026 - 20:33 WIB