JAKARTA, trendsberita.com – Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini menjadi fitur utama yang hampir selalu muncul dalam peluncuran smartphone terbaru. Produsen seperti Samsung, Apple, Xiaomi, Oppo, Vivo, hingga Honor berlomba-lomba menghadirkan fitur AI untuk menarik perhatian konsumen.
Namun, muncul pertanyaan penting di kalangan pengguna. Apakah AI benar-benar memberikan manfaat nyata dalam penggunaan sehari-hari atau hanya menjadi strategi pemasaran untuk meningkatkan penjualan perangkat baru?
Perdebatan tersebut semakin menarik karena hampir seluruh smartphone premium dan kelas menengah pada 2026 sudah mengandalkan AI sebagai nilai jual utama.
AI Tidak Lagi Sekadar Gimmick
Beberapa tahun lalu, banyak produsen menggunakan istilah AI hanya sebagai label pemasaran.
Kini situasinya mulai berubah. Smartphone modern mampu menjalankan berbagai fungsi AI langsung di perangkat melalui Neural Processing Unit (NPU) tanpa harus bergantung pada server cloud. Teknologi ini memungkinkan ponsel bekerja lebih cepat sekaligus menjaga privasi pengguna.
Pengguna saat ini dapat memanfaatkan AI untuk menerjemahkan percakapan secara real-time, merangkum dokumen panjang, mengedit foto otomatis, hingga membantu menyusun pesan dan email.
Karena itu, AI mulai memberikan manfaat yang dapat dirasakan langsung oleh pengguna.
AI Membantu Aktivitas Sehari-hari
Produsen smartphone terus mengembangkan AI untuk menyelesaikan berbagai tugas yang sebelumnya membutuhkan aplikasi tambahan.
Fitur AI kini mampu membuat ringkasan rapat, menerjemahkan panggilan telepon, menghapus objek pada foto, mengatur jadwal harian, hingga memberikan rekomendasi berdasarkan kebiasaan pengguna.
Selain itu, asisten AI generasi terbaru juga mulai memahami konteks percakapan dengan lebih baik dibandingkan asisten digital generasi sebelumnya.
Karena itu, banyak pengguna mulai menganggap AI sebagai fitur produktivitas yang berguna.
Tidak Semua Fitur AI Benar-Benar Dibutuhkan
Meski menawarkan banyak kemampuan baru, tidak semua pengguna memanfaatkan seluruh fitur AI yang tersedia.
Sebagian pengguna hanya menggunakan smartphone untuk berkomunikasi, membuka media sosial, menonton video, dan bermain game. Dalam kondisi tersebut, banyak fitur AI tidak memberikan dampak signifikan terhadap pengalaman penggunaan sehari-hari.
Selain itu, sejumlah produsen sering memperkenalkan fitur yang terdengar canggih tetapi jarang digunakan oleh mayoritas pengguna setelah beberapa minggu pemakaian.
Karena itu, sebagian pengamat menilai perusahaan masih menggunakan AI sebagai alat pemasaran untuk membedakan produk mereka dari pesaing.
Produsen Berlomba Menjadikan AI Sebagai Nilai Jual
Persaingan pasar smartphone semakin ketat dalam beberapa tahun terakhir.
Produsen membutuhkan fitur baru untuk mendorong konsumen melakukan upgrade perangkat. AI kemudian menjadi solusi karena perusahaan dapat menghadirkan berbagai kemampuan baru tanpa harus mengubah desain perangkat secara drastis.
Akibatnya, hampir setiap peluncuran smartphone terbaru selalu menonjolkan fitur AI sebagai bagian utama strategi pemasaran.
Karena itu, banyak konsumen mulai mempertanyakan apakah semua fitur tersebut benar-benar penting atau hanya mengikuti tren industri.
AI On-Device Jadi Masa Depan Smartphone
Salah satu perkembangan terbesar pada 2026 adalah meningkatnya penggunaan AI on-device.
Teknologi ini memungkinkan smartphone menjalankan proses AI langsung di dalam perangkat tanpa mengirim data ke server eksternal. Pendekatan tersebut meningkatkan kecepatan pemrosesan sekaligus memperkuat keamanan data pengguna.
Selain itu, AI on-device juga mengurangi ketergantungan terhadap koneksi internet sehingga pengguna tetap dapat mengakses berbagai fitur pintar secara offline.
Karena itu, banyak analis melihat AI on-device sebagai arah perkembangan smartphone beberapa tahun ke depan.
Konsumen Semakin Selektif
Meski AI terus berkembang, konsumen kini semakin kritis dalam menilai fitur baru.
Banyak pengguna tidak lagi tertarik pada istilah pemasaran yang terdengar canggih tanpa manfaat yang jelas. Mereka lebih memperhatikan apakah fitur tersebut benar-benar membantu pekerjaan, meningkatkan produktivitas, atau mempermudah aktivitas sehari-hari.
Karena itu, produsen smartphone harus membuktikan bahwa AI mampu memberikan manfaat nyata, bukan sekadar menjadi materi promosi saat peluncuran produk.









