Jakarta, Trendsberita.com – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa kembali menyampaikan pandangannya mengenai prospek nilai tukar rupiah setelah mata uang Garuda mengalami tekanan cukup besar sepanjang 2026. Purbaya optimistis rupiah akan mulai menguat secara bertahap pada semester kedua tahun ini dan bergerak menuju level yang lebih stabil pada 2027.
Pernyataan tersebut muncul di tengah pelemahan rupiah yang sempat menyentuh rekor terendah terhadap dolar Amerika Serikat dalam beberapa pekan terakhir. Namun, pemerintah dan Bank Indonesia menilai berbagai langkah stabilisasi yang telah dilakukan mulai menunjukkan hasil positif.
Purbaya Yakin Rupiah Menguat pada Semester II 2026
Dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI, Purbaya menyampaikan bahwa nilai tukar rupiah berpotensi kembali menguat secara bertahap mulai Juli hingga Desember 2026.
“Rupiah akan kembali menguat secara bertahap pada semester II-2026,” kata Purbaya.
Menurutnya, tekanan yang saat ini terjadi bersifat sementara dan dipengaruhi berbagai faktor eksternal maupun sentimen pasar. Pemerintah meyakini kondisi tersebut dapat membaik seiring langkah stabilisasi yang terus berjalan.
Target Rupiah Stabil di Rp16.800 per Dolar AS pada 2027
Selain optimistis terhadap pemulihan pada tahun ini, Purbaya juga memperkirakan rupiah mampu mencapai level yang lebih stabil pada 2027.
Pemerintah memasukkan asumsi nilai tukar sekitar Rp16.800 per dolar Amerika Serikat dalam kerangka ekonomi makro tahun depan. Angka tersebut menunjukkan optimisme pemerintah terhadap perbaikan kondisi pasar keuangan nasional.
Purbaya menilai berbagai kebijakan yang sedang dijalankan akan membantu memperkuat fundamental ekonomi Indonesia dan meningkatkan kepercayaan investor.
Bank Indonesia dan Pemerintah Kompak Jaga Rupiah
Pemerintah tidak bekerja sendiri dalam menjaga stabilitas nilai tukar.
Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan telah menyepakati berbagai langkah untuk meningkatkan daya tarik aset keuangan Indonesia. Salah satu upaya yang dilakukan yaitu meningkatkan imbal hasil aset domestik guna menarik kembali aliran modal asing yang sempat keluar dari pasar Indonesia.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyatakan langkah tersebut bertujuan meningkatkan minat investor sekaligus memperkuat posisi rupiah di pasar global.
BI Naikkan Suku Bunga untuk Menahan Tekanan
Sebagai bagian dari strategi stabilisasi, Bank Indonesia secara mengejutkan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen pada 9 Juni 2026.
Kebijakan tersebut menjadi kenaikan suku bunga di luar jadwal pertama dalam delapan tahun terakhir. Bank Indonesia mengambil langkah tersebut setelah rupiah mengalami pelemahan lebih dalam dari perkiraan.
Setelah pengumuman tersebut, rupiah langsung menunjukkan penguatan dan pasar saham Indonesia ikut mencatat kenaikan yang signifikan.
Reformasi SDA Diyakini Perkuat Rupiah
Purbaya juga menaruh harapan besar pada reformasi sektor sumber daya alam (SDA).
Menurutnya, kebijakan yang berkaitan dengan pengelolaan hasil ekspor sumber daya alam dapat meningkatkan pasokan dolar di dalam negeri. Langkah tersebut berpotensi memperkuat cadangan devisa sekaligus membantu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Pemerintah meyakini semakin banyak devisa yang masuk ke pasar domestik akan memberikan dukungan tambahan terhadap penguatan rupiah dalam jangka menengah.
Investor Mulai Merespons Positif
Sejumlah kebijakan terbaru mulai mendapat respons positif dari pasar.
Reuters melaporkan bahwa penguatan koordinasi antara kebijakan fiskal dan moneter berhasil meningkatkan kepercayaan investor setelah sebelumnya muncul kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi nasional.
Pasar juga merespons positif keputusan pemerintah menyesuaikan berbagai kebijakan fiskal untuk menjaga stabilitas ekonomi dan mengendalikan tekanan terhadap nilai tukar.
Tantangan Masih Membayangi
Meski optimistis, pemerintah tetap menghadapi sejumlah tantangan.
Ketidakpastian ekonomi global, konflik geopolitik di Timur Tengah, serta fluktuasi harga energi dunia masih berpotensi memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah. Selain itu, sentimen investor terhadap kebijakan fiskal dan kondisi pasar keuangan global juga akan turut menentukan arah rupiah dalam beberapa bulan ke depan.
Karena itu, pemerintah dan Bank Indonesia terus memantau perkembangan pasar sekaligus menyiapkan berbagai langkah antisipasi untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Fundamental Ekonomi Dinilai Tetap Kuat
Di tengah tekanan terhadap rupiah, Purbaya tetap menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih berada dalam kondisi yang baik.
Ia menilai pelemahan nilai tukar saat ini belum mencerminkan kondisi fundamental ekonomi secara keseluruhan. Pemerintah juga meyakini berbagai indikator ekonomi utama masih menunjukkan ketahanan yang cukup baik menghadapi tekanan global.
Optimisme tersebut menjadi dasar keyakinan pemerintah bahwa rupiah dapat kembali menguat setelah tekanan pasar mulai mereda.









