OpenAI dan Nvidia Ikut Adopsi Teknologi Watermark AI Google untuk Konten Digital

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 21 Mei 2026 - 15:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

OpenAI dan NVIDIA. Foto/ The Verge

OpenAI dan NVIDIA. Foto/ The Verge

Jakarta, trendsberita.com – Perusahaan teknologi besar seperti OpenAI dan Nvidia mulai mengadopsi teknologi watermark AI milik Google bernama SynthID. Langkah ini menandai perubahan besar dalam cara industri teknologi mengelola konten buatan kecerdasan buatan.

Google mengembangkan SynthID melalui DeepMind untuk menandai konten AI secara digital. Sistem ini menyisipkan tanda khusus ke dalam gambar, audio, dan video tanpa mengubah tampilan visualnya. Sistem tersebut kemudian membantu platform mendeteksi apakah suatu konten berasal dari AI atau manusia.

Industri AI Bergerak ke Standar Baru

OpenAI dan Nvidia ikut mendorong penggunaan watermark AI karena industri mulai membutuhkan standar yang sama untuk semua perusahaan.

Google sudah lebih dulu memakai SynthID di berbagai layanan mereka. Teknologi ini menyisipkan watermark langsung ke data visual dan audio, bukan sekadar metadata biasa. Cara ini membuat tanda tetap bertahan meski seseorang mengedit atau mengompres file.

Google juga mengklaim bahwa sistem ini sudah digunakan untuk menandai lebih dari 100 miliar konten AI di seluruh ekosistem mereka.

OpenAI Mulai Integrasikan Watermark di Gambar AI

OpenAI mulai menguji dan menerapkan SynthID pada gambar yang dihasilkan sistem AI mereka. Dengan langkah ini, pengguna bisa melacak asal gambar AI dengan lebih mudah.

Baca Juga :  6 HP Flagship Termurah dengan Spek Sultan Harga Teman yang Sulit Diabaikan

Nvidia juga ikut mengadopsi pendekatan serupa dalam sistem AI mereka, terutama pada infrastruktur komputasi AI berskala besar.

Kolaborasi ini menunjukkan bahwa perusahaan besar mulai bergerak ke arah yang sama dalam membangun ekosistem AI yang lebih transparan.

C2PA Jadi Standar Pendukung

Selain SynthID, industri teknologi juga mengembangkan standar C2PA (Coalition for Content Provenance and Authenticity). Standar ini menambahkan informasi asal-usul konten melalui metadata terenkripsi.

Google sudah menggabungkan C2PA ke beberapa produk mereka, termasuk perangkat Pixel dan layanan AI Gemini. Dengan sistem ini, pengguna bisa menelusuri asal konten digital secara lebih jelas.

Kombinasi C2PA dan SynthID memperkuat sistem verifikasi konten di era AI generatif.

Melawan Deepfake dan Informasi Palsu

Perusahaan teknologi mendorong watermark AI sebagai salah satu cara melawan meningkatnya deepfake dan konten manipulatif.

Sistem ini membantu platform mengenali konten buatan AI dan memberi label yang lebih jelas kepada pengguna. Namun, beberapa ahli tetap menyoroti tantangan karena teknologi AI juga terus berkembang dan mencoba melewati sistem deteksi.

Baca Juga :  Cara Mencegah Layar HP Diintip di Tempat Umum: Privacy Display di Galaxy S26 Ultra Hadirkan Solusi Canggih

Google menyebut situasi ini sebagai persaingan terus-menerus antara pembuat AI dan sistem pelindung konten.

Dampak untuk Pengguna Internet

Pengguna internet akan lebih mudah membedakan konten asli dan konten buatan AI di masa depan.

Platform media sosial dan layanan digital bisa menampilkan penanda khusus pada konten AI. Hal ini membantu pengguna menilai informasi dengan lebih kritis sebelum mempercayainya.

Transparansi ini juga meningkatkan kepercayaan publik terhadap konten digital yang semakin banyak diproduksi oleh AI.

Arah Baru Industri AI

Adopsi teknologi watermark oleh OpenAI dan Nvidia menunjukkan bahwa industri AI mulai bergerak ke arah standar global yang lebih jelas.

Perusahaan teknologi tidak lagi berjalan sendiri-sendiri. Mereka mulai menyatukan pendekatan untuk menjaga keamanan dan transparansi konten digital.

Para analis menilai langkah ini bisa menjadi fondasi penting untuk masa depan AI yang lebih bertanggung jawab.

Follow WhatsApp Channel trendsberita.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Indonesia Belum Gunakan Pesawat Water Bombing Malaysia untuk Karhutla
Lampung Jadi Provinsi Pertama Gunakan Satelit Hiperspektral
Galaxy Z Fold8 Ultra Hadir, Bonus hingga Rp 9 Juta
PT PAL Perkenalkan Konsep Senjata Laser Portabel
September 2026 diprediksi menjadi bulan peluncuran smartphone flagship terbesar
3 Sensor Kamera HP Terbaik 2026 untuk Foto Profesional
Harga Samsung Galaxy Watch Ultra 2 dan Watch9 Resmi di RI
Trik Preorder Galaxy Z Fold 8 Ultra Mulai Rp1,1 Juta
Berita ini 12 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 26 Agustus 2026 - 12:02 WIB

Indonesia Belum Gunakan Pesawat Water Bombing Malaysia untuk Karhutla

Rabu, 5 Agustus 2026 - 21:26 WIB

Lampung Jadi Provinsi Pertama Gunakan Satelit Hiperspektral

Rabu, 5 Agustus 2026 - 19:53 WIB

Galaxy Z Fold8 Ultra Hadir, Bonus hingga Rp 9 Juta

Rabu, 5 Agustus 2026 - 19:47 WIB

PT PAL Perkenalkan Konsep Senjata Laser Portabel

Selasa, 28 Juli 2026 - 20:42 WIB

September 2026 diprediksi menjadi bulan peluncuran smartphone flagship terbesar

Berita Terbaru

Oplus_131072

Daerah

Hubungan Takdir, Ikhtiar, Doa, dan Tawakal

Jumat, 28 Agu 2026 - 08:26 WIB

Oplus_131072

Internasional

Energi Monyet Air Bawa Keberanian Menghadapi Perubahan

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:25 WIB